Akhirnya Berjumpa
Tantangan Hari ke-1960
#TantanganGurusiana-6
***
Menilik berbagai fenomena alam, baik itu perubahan iklim dan dampak pengiringnya bagi kelangsungan hidup, semakin membuat hati terenyuh. Semakin banyak pembangunan yang selalu mengatasnamakan rakyat, padahal banyak diantaranya justeru menyusahkan rakyat. Bukan menantang, sebagai rakyat jelata, apa sih yang bisa dilakukan kecuali mengelus dada sendiri (jangan coba-coba dada orang lain, bisa memicu perang dunia ke-15) yang sakitnya sudah tidak ketulungan.
Sudah berapa banyak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh kasus pembangunan. Padahal kembali lagi dengan pertanyaan ringan. Apakah benar itu semua untuk rakyat. Karena sangat bisa jadi, itu semua hanya tipuan. Ujung-ujungnya tanpa sadar mereka sendiri yang membuka tabir rahasia yang sebelumnya mereka sembunyikan. Ingatkan dengan pembanguan kereta cepat? Endingnya hanya meninggalkan luka dengan hutang yang membebani rakyat.
Bagaimana dengan kasus pengrusakan lingkungan (lahan gambut), guna menanam singkong, yang endingnya ternyata panen jagung yang ditanam dalam polybag. Sementara kayu hasil penebangan tersebut menguap entah kemana. Belum lagi soal kerusakan lingkungan hidup karena tambang. Bukan hanya menimbulkan debu yang benar-benar membuat pernapasan masyarakat sekita terganggu, tapi kerusakan lingkungan alam yang semakin parah.
Apalagi setelah pengerukan dan pengrusakan hutan yang telah berhasil menjadi lokasi tambang, lalu setelah penambangan usai, lingkungan yang telah rusak meninggalkan danau siluman yang sangat mengerikan. Belum lagi jika semua pihak tidak peduli. Maka bersiaplah menerima kemarahan alam. Beberapa diantaranya telah menelan korban nyawa.
Pengalihan status hutan rakyat, hutan adat dan "lahan tak bertuan" menjadi perkebunan sawit. Tentu saja ini bukan hutan. Memang ada kelompok tertentu menyebutnya hutan, padahal aslinya merupakan merusak lingkungan dengan bentuk yang lain. Konon kata para ahli, untuk pohon sawit yang sedang usia produktif, menghabiskan air 1000 liter/batang dalam 24 jam. Bisa dibayangkan, jika perkebunan sawit raksasa yang jumlah ratusan ribu hektar. Sangat wajar daerah disekitarnya menjadi rusak.
Beberapa hari ini, dapat dirasakan oleh rakyat. Hari-hari biasa, walaupun panas terik, suhunya jarang mencapai angka diatas 34°C. Namun saat dalam perjalanan dari rumah menuju kawasan bandara Sulthan Thaha Syaifuddin Jambi, detektor suhu mencatatkan angka fenomenal 37°C. Jangankan suhu tinggi tersebut, pada saat suhu menunjukkan angka 30°C saja, dirasakan seolah suhu 40°C. Lalu suhi 37°C tadi dirasakan seperti apa ya.
Untungnya, dalam kondisi suhu yang tinggi disertai dengan udara yang kering, maka suhu yang panas menjadi sangat panas, karena didukung oleh udara yang kering.
Semoga menjadi perhatian pihak terkait, agar mengembalikan lingkungan yang rusak menjadi lebih baik. Bukankah sekarang semakin terasa, dampak dari pemanasan global, akibat dari tercemarnya lingkungan. Dimana pelakunya bebas berkeliaran dan terus menerus melakukan pengrusakan. Akhirnya berjumpa dengan kondisi suhu yang kurang bersahabat dengan ummat manusia. Mari kita semua berbenah diri, mulailah dari hal kecil untuk perubahan ke arah yang lebih baik.
***
~~ Mendalo Mas, 270525 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
