Belajar dari Uban
Tantangan Hari ke-1958
#TantanganGurusiana-6
***
Sebenarnya kisahnya ini bermula dari diskusi ringan dengan teman-teman di sekolah. Melihat kelakuan siswa yang rasa hormatnya kepada kakak kelas yang makin rendah. Jika kepada guru saja, rasa hormatnya juga sudah makin surut, apalagi dengan kakak kelasnya. Ada kekhawatiran mendalam pada setiap diri guru.
Berangkat dari kisah itu pula, muncul cerita lucu yang saya jadikan sebagai pembanding. Sebenarnya cerita itupun pernah saya tuliskan dalam tantangan Gurusiana. Banyak guru, yang awalnya dengan wajah serius, sudah mulai menganggap kisah yang akan saya sampaikan adalah cerita konyol tanpa makna.
Coba Bapak/Ibu perhatikan rambut yang ada di kepala yang sudah dipenuhi uban. Walaupun dipangkas dengan ukuran yang sama, tetap saja rambut putih (uban) yang tumbuh panjangnya lebih cepat dari rambut warna hitam. Ada apa dengan uban? Kenapa dia lebih cepat panjang dibandingkan dengan rambut hitam? Ternyata itu sebagai bentuk penghormatan rambut hitam kepada seniornya.
Ternyata, bukan hanya rambut yang di kepala. Pernahkah kita memperhatikan jenggot, alis dan kumis, bahkan buli hidung. Tetap saja rambut warna putih yang terlihat panjang lebih awal dibandingkan yang warna hitam.
Lalu apa hubungannya dengan senior dan junior apa di sekolah? Tentu saja ada. Rambut saja punya rasa tenggang yang luar biasa terhadap seniornya (uban), tidak akan ada rambut hitam (junior) yang tumbuh lebih panjang lebih dahulu dari seniornya (uban). Apatah lagi adik kelas terhadap kakak kelasnya. Belajarlah dari rambut bagaimana cara menghormati dan menghargai senior. Bukan karena gila hormat, tapi bagaimana mengajarkan arti dari sebuah penghormatan dan menghargai orang lain.
Namun kakak senior juga harus bisa menjadi contoh yang baik. Jangan menuntut lebih kepada junior, manakala diri sendiri saja tidak bisa menjadi contoh. Demikian juga dengan uban. Ia menjadi contoh bagi juniornya, bisa berdiri kuat walaupun usianya sudah tidak muda. Ia tetap berdiri kokoh menjadi contoh kabaikan. Ditengah gempuran usia, ia tetap bertahan. Tidak akan kita temukan ada uban yang rontok. Seperti itu pula harapan sebuah kebaikan dan ketulusan menghargai serta menghormati orang lain.
***
~~ Mendalo Mas, 250525 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
