Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Biarlah dianggap 'Jadul'
Ilustrasi gambar: Meta AI

Biarlah dianggap 'Jadul'

Tantangan Hari ke-1942

#TantanganGurusiana-6

***

Menilik fenomena dunia pendidikan di negeri sebelah, mulai dari siswanya yang joget-joget dengan berbagai gaya, bahkan sampai pada posisi yang sangat memalukan dan menyedihkan. Ternyata masalah ini bukan hanya terjadi dikalangan siswa. Heboh joget-joget tersebut juga merambah ke guru-gurunya.

Joget dengan gaya yang kadang bahkan sering "nyeleneh" tersebut apakah perilaku tersebut sebagai penanda masuknya era baru dalam dunia pendidikan, atau jangan-jangan sebagai pertanda hancurnya nilai-nilai pendidikan, yang selama ini menjunjung tinggi nilai akhlak mulia serta harkat kemanusiaan yang paripurna bagi seorang guru.

Fenomena aneh ini makin ke sini terlihat makin ke sana. Bahkan hampir di setiap kegiatan di sekolah maupun luar sekolah, endingnya dengan joget-joget yang "merendahkan" harga diri dan keunggulan akhlak sang guru. Apakah saya pribadi yang mungkin cara berpikirnya agak sedikit "jadul" dan kampungan. Jika benar demikian, maka biarlah saya memilih sebagai guru jadul, daripada dianggap "modern" tapi harkat kemanusiaannya rendah.

Wahai rekan-rekan pendidik, harus diingat bahwa nilai-nilai akhlak mulia itu sederhananya harus bisa menjadi contoh, bukan memberi contoh. Ingat dan lihatlah bagaimana guru kota dulu. Mereka tidak perlu banyak berbicara, berteriak menyampaikan contoh-contoh kebaikan, tapi mereka sendiri langsung menjadi contoh.

Bagaimana kita mengajarkan akhlak mulia, jika ternyata diri sendiri jauh dari kata mulia. Begitu juga terkait disiplin, anak-anak akan berdisiplin, manakala gurunya disiplin. Sekarang gurunya saja tidak tepat waktu masuk kelas. Bahkan sering terlambat masuk dan tepat waktu saat keluar, tidak jarang malah lebih cepat dari alokasi waktu yang sebenarnya. Atau karena gurunya memegang prinsip cukup terlambat satu kali, jangan sampai dua kali. Biarlah terlambat masuk, tapi jangan sampai terlambat keluar.

Fenoman ini, jika terus menerus berlangsung, maka apa yang menjadi pesan dan harapan pendiri negeri ini, agar generasi penerus bangsa yang menjadi pemimpin masa depan, benar-benar siap mengambil alih tampuk kepemimpinan, memajukan bangsanya, agar setara dengan negara maju lainnya. Sepertinya itu semua makin jauh dari harapan.

Biarlah jadul, daripada harus mengangkangi nilai-nilai akhlak mulia dan merendahkan diri sendiri demi atas nama kemajuan dan ketenaran. Apa yang bisa diharapkan, manakal semuanya sudah rusak. Lihat bagaimana anak-anak di negara tetangga, mereka sedang berjibaku belajar dan berinovasi, agar menjadi negara maju.

***

~~ Mendalo Mas, 090525 ~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post