Guru Paling Kejam...?
Tantangan Hari ke-1964
#TantanganGurusiana-6
***
Mungkinkah karena perbedaan perlakuan terhadap anak, ataukah memang zaman sudah berubah. Itu menjadi pertanyaan yang kadang membuat banyak orang menjadi bingung menjawabnya. Sebenarnya tidak sulit, tapi juga tidak mudah (tuhkan, jadi makin bingung).
Fenomena siswa nakal dan bermasalah lainnya, lalu oleh sang kepala daerah dimasukkan ke barak militer. Tidak salah memang, tapi tentu saja tidak semuanya benar. Jika ada anak yang melakukan kenakalan, akhlaknya kurang baik, jangan buru-buru dihakimi dan dibawa ke tempat rehabilitasi. Coba dilacak kondisi didalam keluarganya. Karena anak adalah penyontoh terbaik.
Sebagai makhluk Tuhan yang unik, maka anak-anak sudah barang tentu harus mendapat pendidikan akhlak yang baik dari rumah. Karena bayi itu dilahirkan dalam keadaan suci. Kalau kata pujangga, bayi atau anak-anak itu seperti kertas putih. Maka kedua orang tuanyalah yang akan memberi warna dan pelukis terbaik pada kertas putih tersebut. Jika contoh yang baik yang dihadirkan dan diajarkan, maka kecenderungan sang anak juga akan melakukan hal yang sama. Begitu juga sebaliknya, jika orang tua menjadi contoh yang buruk, maka anaknya lebih kurang sama.
Pada saat anak yang sudah masuk jenjang pendidikan, baik tingkat dasar (SD, MI, SMPdan Tsanawiah), maupun tingkat atas (SMA, MA dan SMK). Jangan ada klaim bahwa anaknya baik, tapi di sekolah sering melangar aturan, parahnya lagi pelanggaran tersebut mendapatkan dukungan dari orang tuanya. Sembari tentunya menyalahkan pihak sekolah. Bayangkan saja anaknya merokok, lalu dengan enteng orang tuanya menyalahkan sekolah yang terlalu lebay. Eh ternyata si anak, memang di rumah sudah terbiasa merokok.
Kalau dikembalikan dalam pola pendidikan. Maka pendidikan karakter pertama kali itu diajarkan didalam lingkungan keluarga. Jika penanaman akhlak sudah baik, maka akan terlihat hasilnya saat anak tersebut di sekolah. Manakala kebaikan yang diajarkan itu "imitasi" alias palsu, maka akan terlihat pula hasilnya di sekolah. Pada dasarnya, sekolah itu memperkuat apa yang sudah diajarkan oleh orang tuanya di rumah.
Anehnya, saat sekolah mengambil posisi sedikit memberikan teguran, tindakan hukuman atas pelanggaran atas pendidikam karakter yang diharapkan kepada siswa, seringkali mendapatkan perlawanan dari orang tua siswa. Maka bersiaplah mendapatkan label baru pada diri sang guru. Guru jahat dan guru kejam. Tidak semua orang bisa dan kuat mengambil posisi tersebut. Maka berbahagialah, manakala sang guru mendapatkan gelar istimewa tersebut. Yakinlah, bahwa semua tindakan yang diberikan kepada siswa adalah untuk kebaikan dirinya dimasa yang akan datang.
Siapkah sang guru menerima label keren tersebut sebagai guru paling kejam dan paling jahat dari siswa dan orang tua siswa? Ah, santai saja. Mending mendapat gelar tersebut, daripada sebaliknya. Menjadi guru baik, tapi abai dan lalai dengan kesalahan siswa, bahkan bisa diajak kerja sama melindungi siswa yang melakukan kesalahan. Nah kalau seperti ini, gelar apa lagi yang tepat untuk sang guru. Kayaknya gelar yang tepat adalah "guru konyol."
***
~~ Mendalo Mas, 310525 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
