Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Ketika Kebenaran tak lagi Berdaya
Ilustrasi gambar: Meta AI

Ketika Kebenaran tak lagi Berdaya

Tantangan Hari ke-1935

#TantanganGurusiana-6

***

Hari ini, bertepatan hari ke-1935 mengikuti tantangan menulis tanpa henti bersama Gurusiana. Blog guru penulis yang cetar membahana di seantero negeri. Tempat dimana saya pribadi merasa "tersesat di jalan yang benar." Bermimpi pun saya tidak pernah, apalagi punya cita-cita menghasilkan karya buku tunggal dan antologi. Tapi kini semuanya menjadi nyata.

Kemudian hari ini, bukan ingin menceritakan sedikit yang telah dihasilkan, tapi angka 1935, mengingatkan saya pada sosok tokoh yang luar biasa ini.

Taufiq Ismail, yang dikenal sebagai seorang penyair dan tokoh sastra, lahir pada tanggal 25 Juni 1935. Ia telah menghasilkan banyak karya sastra, termasuk buku kumpulan puisi seperti "Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia" dan "Tirani dan Benteng".

Menyimak karya beliau, serta keberaniannya menyuarakan kebenaran, sungguh menjadi penggugah hati untuk bisa seperti beliau. Tidak semua orang berani mengambil peran dan posisi yang berseberangan. Bukankah sekarang dapat kita tilik dan rasakan sendiri suasananya. Banyak yang memilih jalan aman lalu mendekat demi kenyamanan. Tidak lagi peduli dengan nilai dari kebenaran.

Sebenarnya beliau juga tidak berjuang sendirian. Ada banyak sosok dan tokoh yang tetap berdiri menyuarakan keadilan dan kebenaran. Walaupun masih kalah kuat dan kalah kencang dari kelompok pendukung kezaliman. Tanpa menyebut siapa kelompok tersebut, bukan pula karena ada rasa takut akan diserang. Ada banyak seniman, sastrawan yang mengambil posisi berseberangan lalu duduk bersama rakyat yang menjadi kelompok yang dengan sengaja dimarginalkan.

Ternyata angka 1935 itu bukan sekadar angka biasa, juga bukan bilangan yang menandakan perjalanan karya seorang penulis pemula, tapi ada banyak pesan yang coba ia sampaikan, bahwa kini semakin terlihat kebenaran sudah tidak berdaya lagi menghadapi kezaliman dan kemunafikan. Ataukah ini pertanda alam bahwa dunia ini memang sudah semakin tua dan menungu waktunya tenggelam dan karam. Lalu kita berada dipihak yang mana?

Tentu saja pilihan tersebut terpulang kepada diri kita masing-masing. Mencari yang aman dan nyaman, maka bergabunglah dengan kelompok kezaliman yang selalu merasa benar dan tidak pernah salah. Begitu pula sebaliknya, menjadi kelompok yang selalu diserang dengan narasi yang menyesatkan, seperti gagal move on, barisan sakit hati dan lain sebagainya.

"Selamat Hari Pendidikan Nasional. Jadilah kelompok yang bermartabat. Karena sebuah negara akan maju, manakala menempatkan pendidikan sebagai yang paling utama"

***

~~ Mendalo Mas, 020525 ~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post