1990 Tahun Pertama Merantau
Tantangan Hari ke-1990
#TantanganGurusiana-6
***
Setelah tiga tahun merasakan berjalan kaki dengan jarak tempuh yang lumayan jauh untuk ukuran anak kecil (2-3 km), setiap harinya dijalani dengan tulus dan penuh semangat. Senin sampai Sabtu tanpa ada hari untuk berboloa ria, apalagi dengan drama bermacam-caman agar mendapatkan izin dari orang tua untuk tidak masuk sekolah.
Berbeda dengan anak-anak zaman sekarang, yang bermacam-macam label yang diberikan, seperti Gen-Z, Gen-G (Generasi Galau), banyak keinginan tapi tidak mau berjuang, karena semuanya ingin serba instan. Jadi pada masa tiga tahun di jenjang pendidikan SMP, tanpa pernah abse dalam daftar kehadiran di kelas, bahkan keterangan izin dan sakitpun hampir tidak ada. Tekat itu pula yang menjadikannya siap untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya.
Tahun 1990, sesuai dengan jumlah hari menulis tanpa henti dalam tantangan Gurusiana. Angka yang sama menandakan tahun pertama merasakan tinggal di rantau, di kamar kos yang apa adanya, tanpa fasilitas yang sangat memadai dan jauh dari kata sempurna, seperti kosan anak-anak pada masa kini. Tapi lagi-lagi tidak menyurutkan langkah anak kecil ini untuk terus berjuang.
Angka 1990 juga menjadi awal dari kisah perjalanan seorang anak kecil yang belajar merantau, hidup jauh dari keluarga dan mengatur hidupnya sendiri tanpa bantuan orang tuanya. Bukan hal mudah pada masa itu tinggal ngekos dan tidak ada kenalan dari teman satu kampung. Karena di sekolah, tidak ada satupun yang memilih sekolah di SMA, semuanya melanjutkan pendidikan ke jalur sekolah madrasah.
Pada tahun 1990 ini pula, awal dari sebuah tekat untuk menjadi anak yang baik dan bermanfaat bagi semua, terus tertanam dalam dirinya. Itu telah dia buktikan saat masih SMP, selanjutkan akan diteruskan selama masa pendidikan di SMA. Berbekal ketulusan dan ketegasan, keinginan untuk bisa menjadi yang terbaik juga tidak pernah ia lupakan. Wali kelas semasa kelas 3 SMP, menitipkan pesan, bahwa dia si anak kecil tersebut harus bisa menjadi yang terbaik di SMA.
Semua yang telah ia ucapkan, menjadi keharusan untuk ditunaikan. Walaupun tidak punya teman yang berasal dari kampungnya, si anak kecil ini memiliki banyak teman dari berbagai daerah. Itu sebuah berkah dan anugerah. Bekal yang telah disiapkan oleh kedua orang tuanya ikut serta menjadi alat untuk memudahkan semua kegiatan si anak kecil. Apalagi jika membahas soal kegiatan agama.
Di mushalla dan masjid, si anak kecil ini juga sudah banyak dikenal orang, karena sering tampil mengumandangkan azan. Jadilah si anak kecil tersebut dengan mudah dikenal dan diterima oleh masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Sebuah kebahagiaan bagi anak kecil ini.
***
~~ Mendalo Mas, 260625 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
