Kebesaran Hati
Tantangan Hari ke-1971
#TantanganGurusiana-6
***
Satu profesi yang kini dirindukan tapi juga menjadi batu sandungan. Kalau ibarat syair lagu lawas itu "Benci tapi Rindu" dengan sosok itu. Siapa lagi kalau bukan sosok guru. Banyak yang perlu masa bertahun-tahun, bahkan hanya beberapa bulan merasakan SK P3K, lalu bersipa-siap menghadapi masa purna bhakti. Namun juga ada yang sampai kini, hanya harapan semu. Sampai memasuki usia pensiun, masih belum diangkat sebagai ASN dengan perjanjian kerja.
Profesi yang satu ini memang seksi. Apapun yang dilakukan, selalu menjadi perhatian. Ada yang memperlihatkan sebuah fakta, bagaimana kondisi sekolahnya saat hujan deras, lalu pelataran sekolah ditenggelamkan oleh banjir. Kalau ditanya tidak ada maksud apapun, selain agar banyak orang tahu, bahwa itulah kondisi nyata yang selalu mereka hadapi. Tapi apa yang mereka dapatkan? Sanksi dan ancaman dari petinggi di daerahnya. Jika ingin aman, maka harus membuat pernyataan resmi dan meminta maaf kepada para pejabata di daerahnya.
Belum lagi soal penegakan aturan di sekolah. Siapa yang mau dan tega melihat siswa/peserta didik yang melanggar aturan di sekolah. Bukankah setiap lembaga pendidikan, memiliki seperangkat aturan yang harus mereka patuhi. Semua orang tua juga tahu dan paham dengan peraturan tersebut. Lalu apa yang terjadi saat ada siswa yang melanggar, apalagi sampai masuk kategori pelanggaran berat yang sanksinya juga berat (dikeluarkan dari sekolah alias dipulangkan). Tentu saja tujuannya adalah agar kedua orang tua siswa juga memiliki tanggung jawab untuk membina dan mendidik anaknya. Karena sudah berulang kali melakukan pelanggaran.
Menilik banyak kejadian, biasanya guru yang mengambil posisi memberikan teguran keras, apalagi sampai berani membersi sanksi dikeluarkan dari sekolah, maka bersiap-siap menjadi musuh bersama orang tua siswa pelaku pelanggaran. Anehnya, kadang orang tua juga paham dan tahu bahwa anaknya memang "agak lain" terkait pelanggaran tersebut. Kadang juga mendapat dukungan dari beberapa "guru" unik yang entah punya maksud apa membela siswa yang melanggar aturan. Itu biarlah mereka sendiri yang tahu tujuannya.
Bagi guru yang tetap konsisten dalam menegakkan aturan, maka teruslah bertahan pada jalur tersebut, tapi harus dengan satu syarat, sang guru memiliki kebesaran hati menghadapi dan menjalaninya. Tidak ada ruginya bagi yang "lurus" dengan resiko dimusuhi, karena itu semua dilakukan bukan karena kebencian. Supaya siswa paham bahwa ia bersalah dan tidak lagi mengulang kesalahan dikemudian hari. Manakala sudah tidak bisa lagi dibina, maka jalan yang harus diambil hanya dikembalikan kepada orang tuanya.
Jangan pernah takut menghadapi resiko dibenci dan dimusuhi. Selama niat dan tujuannya adalah untuk kebaikan sang anak dikemudian hari. Berbagi tugas dan tanggung jawab anak kepada orang tuanya siswa adalah sebuah kebaikan. Harus diingat, bahwa sekolah bukanlah tempat penitipan anak bermasalah. Terkait pendidikan karakter, maka itu tugas dan kewajiban utama kedua krang tuanya.
***
~~ Danau Kerinci, 070625 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
