Seperti Jamu
Tantangan Hari ke-1977
#TantanganGurusiana-6
***
Didiklah anak-anakmu dengan baik, karena tantangan yang akan mereka hadapi jauh lebih berat dari apa yang dulu pernah kamu lewati. Sepertinya pesan bijak itu tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan.
Tidak salah memang, namun tugas tersebut tidak pula ringan seperti mengangkat kapas. Tugas mendidik anak-anak di era sekarang memang mudah-mudah sulit, bahkan lebih banyak sulit daripada mudahnya. Tantangan yang dihadapi makin berat manakala guru mencoba mengambil peran tidak hanya menyampaikan materi pelajaran kepada siswa, tapi juga sebagai pendidik.
Belajar dari banyak kasus dan peristiwa ya g dialami oleh guru. Tugas dan tantangan terberat itu manakal bertemu dengan siswa yang selalu mendapat dukungan dari orang tuanya, padahal sudah jelas sekali pelanggaran yang dilakukan oleh anaknya. Guru dihadapkan pada dua mata pisau yang siap melukai dirinya. Diambil tindakan tegas berhadapan dengan perlawanan orang tua siswa, membiarkannya sama saja dengan merendahkan harkat dan martabat sebuah profesi yang dekat dengan pendidikan karakter, yaitu peran guru sebagai pendidik.
Mendidik anak yang memiliki karakter "unik" karena setiap kesalahan dan keburukan anak selalu mendapat perlindungan dari orang tuanya, biasanya sang guru akan dihadapkan pada sebuah realita yang rumit. Apakah berditi tegak dan tegas menegakkan aturan, ataukah mundur menyelamatkan diri demi kenyamanan, apalagi tindakan tegas sering tidak mendapatkan dukungan dari lembaga dan juga rekan sesama guru di sekolah. Disinilah sering guru seperti memakan buaj simalakama. Dimakan bapak mati, tidak dimakan ibu mati, dikulum-kulum diri sendiri yang mati.
Nasihat yang baik, teguran atas kesalahan dan pelanggaran atas peraturan, ibarat meminum jamu. Pahit memang, tapi akan indah manakala dikemudian hari bertemu dengan apa yang dulunya pernah diajarkan dan dilakukan oleh sang guru. Banyak fakta mengatakan, siswa yang pernah berurusan dengan pelanggaran disiplin, lalu menyadari kesalahannya, dikemudian hari ia akan menjadi mawas diri dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Pernah bertemu dengan anak yang dulunya sangat susah diatur. Begitu yang bersangkutan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, apa yang dulu pernah disampaikan ternyata itulah yang dia rasakan. Sehebat apapun dirinya, manakala karakternya kirang bagus, tidak akan ada yang mau berteman dan bersahabat dengannya. Apalagi sudahlah tidak hebat tidak baik pula karakternya. Maka bersiaplah menyendiri dan merasa sepi ditengah keramaian kampus perguruan tinggi.
***
~~ Mendalo Mas,130625 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
