Akankah Berubah...
Tantangan Hari ke-2016
#TantanganGurusiana-6
***
Kadang dari sekian banyak kejadian yang menimpa kita, menimbulkan gejolak di dalam hati. Bagi seseorang yang perasaannya lebih mendominasi, akan menghabiskan banyak waktu meratapi apa yang terjadi. Sedangkan orang yang lebih mengedapankan logika dan menggunakan nalar berpikirnya, ia akan melihat setiap kejadian dari berbagai sudut pandang yang beragam.
Menilik dari banyak hal yang terjadi, saya juga menempatoan diri pada posisi tidak melibatkan perasaan, apalagi sampai menyimpannya di dalam hati (karena hati bukanlah tempat menyimpan). Lebih mengedepankan sebab dan akibat dari semua tindakan yang telah diambil. Lalu mengambil sikap untuk terus bertahan, karena memang berasa dalam posisi benar dalam menegakkan aturan. Langkah berikutnya adalah memilih mundur, lalu membiarkan semua yang terjadi bukanlah menjadi urusan kita.
Manakala ada upaya lain yang berusaha mengenyampingkan ketentuan yang telah dirumuskan, kemudian telah ditetapkan sebagai "buku sakti" dalam menegakkan aturan, maka tidak ada istilah mundur, lalu mengalah demi menyelamatkan diri. Jika sudah melihat fenomena seperti itu, biasanya saya lebih memilih tidak berada didalam barisan tersebut. Walaupun konsekuensinya adalah menjadi terasing dari komunitas.
Sebagai pendidik, banyak hal yang harus dilakulan dalam menegakkan aturan. Apalagi dalam rangka mengajarkan karakter akhlak mulia kepada anak. Tidak cukup hanya memberi contoh. Tapi harus bisa menjadi contoh. Orang yang hanya bisa menyampaikan, tapi tidak bisa melakukan apa yang ia sampaikan, maka jangan berharap siswa akan berubah. Bagaimana mereka berubah, jika secara kasat mata tindakan guru bertolak belakang dengan apa yang ia ucapkan.
Akankah berubah? Jawabannya adalah apakah kita sudah berjalan pada jalur yang benar. Setiap yang diucapkan, apakah sudah menjadi bagian keseharian kita. Bukan hanya berbicara tanpa bukti, atau bahkan masa bodoh dengan apa yang terjadi. Manakala sudah demikian yang terjadi. Maka jangan pernah berharap, lingkungan tempat belajar/sekolah akan menjadi terarah.
Guru bukanlah pasfoto, yang hanya tampak depan, tanpa ada bagian belakang, samping kiri dan kanan, bawah dan atas. Guru adalah sosok yang semua posisi kehidupannya akan menjadi sorotan. Akan tetapi manakala menjadi korban, karena menegakkan aturan dan mengajarkan hal baik, jangan khawatir jika kita dinilai buruk dan bahkan mendapatkan ancaman dari berbagai pihak (orang tua siswa).
Akankah berubah...? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Jika kita sebagai pendidik menyerah dan kalaj, maka akan makin jauh harapan kita melahirkan generasi hebat dimasa depan. Pendidikan bukan hanya tugas guru, tapi juga sangat memerlukan dukungan orang tua dan lingkungan. Apalagi jika pemerintah juga mengambil posisi aman, tanpa mau terlibat dari banyak kasus yang menimpa guru, karena mengajarkan karakter dan menegakkan aturan.
***
~~ Mendalo Mas, 220725 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
