Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Berat, tapi Tetap Ikhlas Menjalaninya
Ilustrasi gambar: ChatGPT

Berat, tapi Tetap Ikhlas Menjalaninya

Tantangan Hari ke-2001

#TantanganGurusiana-6

***

Kembali mengenang tahun 2001, sesuai dengan jumlah hari tantangan menulis tanpa henti bersama Gurusiana. Bukan apa-apa. Tapi saat melihat banyak keluhan beberapa orang terkait keterlambatan pembayaran gaji, honor dan lain sebagainya. Sejenak menjadi terbayang di depan mata. Saat dipanggil menunaikan tugas, setelah akhir tahun 2000 melengkapi berkas kelulusan sebagai tenaga guru CPNS di Kabupaten Batanghari.

Namun apa daya, bertepatan dengan tahun 2001 menjadi penanda terjadinya Otonomi Daerah serta pemekaran wilayah Kabupaten Batanghari menjadi dua kabupaten baru. Kabupaten Batanghari sebagai kabupaten induk, lalu Kabupaten Muaro Jambi, menjadi kabupaten baru dengan ibu kotanya berada di Sengeti. Secara otomatis, beberapa guru CPNS yang baru diangkat, disebar ke beberapa wilayah baru, salah satu dari salah banyaknya adalah saya.

Akhirnya, saya bertolak menuju Sengeti, menanyakan SPMT di tempat yang baru. Awalnya saya harus datang ke SMPN Ladang Panjang, namun setelah beberapa minggu pasca melapor, tiba-tiba saya dialihtugaskan ke SMAN 1 Maro Sebo. Kawasan yang sangat dekat dengan Komplek Candi Muaro Jambi. Setelah mendapatkan informasi melalui salah seorang staf di Dinas Pendidikan, saya harus segera melapor ke sekolah baru tersebut, jika terlambat maka dianggap batal dan akan dikembalikan ke sekolah asal, SMPN Ladang Panjang.

Sesuai jadwal, saya datang menemui kepala sekolah, yang ternyata beliau adalah mantan guru PMP sekolah unggulan berasrama di Provinsi Jambi. Ketegasan dan disiplin yang beliau terapkan, sepertinya sesuai dengan apa yang selama ini juga saya lakukan. Beliau (Pak Isa Syuharin) menyampaikan, bahwa terhitung hari saya lapor diri, sekaligus tercatat sudah melaksanakan tugas. Namun beliau terasa berat menjelaskan bahwa selama melaksanakan tugas, saya dan dua rekan guru baru lainnya, belum mendapatkan bayaran gaji dari Dinas Pendidikan. Karena masih dalam proses pengajuan ke Biro Keuangan (resiko kabupaten pemekaran). Sekolah hanya bisa membantu membayar uang transportasi setiap bulannya. Itupun dengan jumlah yang sangat terbatas.

Terbayang sudah, perjuangan berikutnya. Berstatus sebagai guru CPNS, tapi lebih kurang satu tahun belum dibayarkan gajinya, sampai nanti bulan Desember 2001, barulah gaji dibayarkan dengan dirapel. Melaksanakan tugas juga harus menumpang mobil Kepala Sekolah, dengan diawali berjalan kaki dari rumah kakak (tempat tinggal sementara) lebih kurang 3 km. Lalu saya menunggu mobil kepala sekolah di halte depan Balai Penataran Guru (BPG) yang berganti nama menjadi LPMP, BPMP dan sekarang berganti nama lagi BGTK.

Beratnya perjuangan, tidak membuat semangat melaksanakan tugas menjadi terganggu. Semua dijalani dengan tulus ikhlas. Menghadapi siswa yang selama ini tidak belajar Fisika, karena ketiadaan guru sejak sekolah ini berdiri. Hadir di dalam kelaspun, tidak serta merta mengajar dengan materi yang rumit. Melihat berbagai model rumusnya saja, sudah terlihat pandangan mata siswa berkunang-kunang, seperti bulan kesiangan. Maka belajar menjadi teman yang baik bagi mereka di kelas menjadi langkah pertama dilakukan, sampai akhirnya mereka bersemangat belajar.

Ternyata perjalanan hidup yang penuh perjuangan tidak ada kata usai. Setelah perjuangan diawali dengan meninggalkan kampus 1999, lalu menjadi guru honorer yang gajinya dibayarkan setiap tiga bulan dengan besarannya hanya Rp. 120.000. Untuk ongkos setiap hari ke sekolah saja tidak cukup. Akhirnya kembali berjalan kaki setiap pulang sekolah bersama siswa dengan jarak hanya 4 km. Tentu saja dengan alasan biar bisa menikmati keindahan alam Kerinci yang luar biasa.

Lalu saat lulus sebagai CPNS, dengan gaji per bulannya tidak lebih dari 400an ribu rupiah, tapi tetap bersemangat menunaikan tugas. Terbayang dengan suasana sekarang. Terlambat hanya beberapa hari, atau paling lama beberapa minggu, semuanya pada heboh. Beritanya meriah di sosial media. Sementara dulu, hampir satu tahun belum dibayarkan gajinya, tapi tetap menunaikan tugas negara, mencerdaskan putra putri terbaik bangsa.

Semoga kisah ini, terus menjadi pengingat diri, bahwa tidak semua yang kita inginkan dapat diraih dengan baik dan sempurna. Apapun yang terjadi, jalani dengan tulus ikhlas. Karena kebaikan yang tulus dilakukan, akan berbalas kebaikan pula. Entah dari mana dan oleh siapa. Yakinlah, Allah sudah mengingatkan, bahwa siapa yang berbuat baik, maka kebaikan itu akan kembali kepada dirinya sendiri. Begitu juga jika melakukan keburukan, pasti akan kembali kepada dirinya sendiri.

***

~~ Mendalo Mas, 070725 ~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post