Kebaikan Tanpa Syarat
Tantangan Hari ke-2023
#TantanganGurusiana-6
***
Pernahkah kita merasakan atau mengalami suasana hati yang "agak" aneh. Manakala ada orang yang melakukan kebaikan kepada diri kita, tapi rasa "aneh" itu terasa dalam sanubari. Bukan berarti kita menaruh prasangka, apalagi berburuk sangka, jauh sekali dari hal tersebut. Namun memang ada yang janggal, hati ini seperti tidak bisa merasakan sebuah ketulusan.
Ada seseorang memberikan sesuatu, lalu sembari menyampaikan bahwa pemberiannya benar-benar tulus dan ikhlas. Sekilas memang terlihat ikhlas. Namun, sampai masanya keikhlasan itu akhirnya tidak benar-benar ikhlas. Karena satu kejadian, apa yang dulu ia berikan terucapkan kembali.
"Kok teganya, ngasih nilai anak nggak tinggi, hanya batas KKM. Padahal dulu sempat ngasih hadiah yang harganya nggak murah," seperti itulah kira-kira kalimat indah yang muncul.
Ini sangat manusiawi. Bahwa ada kala seseorang merasakan kasus yang seperti di atas. Dihadapkan pada hal nyata. Bahwa tidak semua orang memberi tanpa harap kembali. Itulah pentingnya menjaga diri dari hal yang memiliki peluang untuk merasakan ketidaktulusan dalam memberi.
Dalam satu waktu, di sekolah sedang berlangsung kegiatan peringatan Hari Guru. Rata-rata menjadi cerita menarik, manakala seorang guru mendapatkan banyak hadiah dari muridnya. Padahal dari versi yang berbeda, bahwa sebelum peristiwa itu terjadi, anak-anak mendapat sindiran dari sang guru. Bahwa anak-anak begitu pelitnya memberikan hadiah untuk guru. Sehingga saat peringatan Hari Guru, banyak diantara murid memberikan hadiah, sekadar menghindari kata-kata kurang baik alias sindiran dari guru.
Terbalik dengan apa yang dirasakan oleh banyak guru. Saya pribadi malah memulangkan semua hadiah tersebut. Setiap anak saya minta mengambil sendiri paket hadiah yang sudah diletakkannya di atas meja dan kursi di ruang guru.
"Jangan salahkan saya, jika tidak diambil, hadiah tersebut akan bertebaran dimana-mana." Begitulah bunyi pesan singkat tersebut disampaikan.
Sehingga semua anak langsung mengambil hadiah tersebut. Kepada mereka sebelumnya sudah disampaikan, jangan ada yang coba-coba memberikan hadiah untuk saya dalam bentuk apapun. Karena bisa jadi hadiah tersebut akan turut mengganggu saya dalam urusan nilai rapor. Begitu juga dengan anak. Ada harapan melalui hadiah, kedepan akan mendapatkan perhatian khusus dari sang guru.
Bukan bermaksud tidak baik, tapi menjaga diri dari niat baik tanpa syarat adalah hal pertama yang perlu dipelihara. Ajarkan nilai tersebut kepada siapa saja, bahwa memberi tanpa harap kembali, bukanlah pekerjaan mudah. Seringkali sesuatu yang kurang baik terjadi, kita mengingat dan mengungkit kembali apa yang pernah kita beri kepada orang lain. Jadi, waspadalah. Kebaikan tanpa syarat harus menjadi yang utama dalam setiap diri.
***
~~ Mendalo Mas, 290725 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
