Ketika Berbuah (Bukan) untuk Mengakui Hasilnya
Tantangan Hari ke-2017
#TantanganGurusiana-6
***
Jika ada pohon buah yang musimnya pada waktu tertentu, atau secara periodik satu tahun sekali, juga ada yang tanpa jeda. Hampir sambung menyambung menjadi, seperti gugus pulau-pulau Indonesia, yang secara diam-diam (walaupun akhirnya tetap ketahuan) di lelang ke pihak pengusaha asing dan atau pengusaha lokal yang royal.
Ada juga pihak tertentu yang memaksakan kehendaknya untuk mengkasuskan pihak lain, karena perbedaan pandangan politik dan segala pernak-pernik yang mengiringinya. Masa bodoh dengan rasa keadilan. Selama bisa diredam dan dikebiri dengan berbagai upaya yang tidak lazim, semua akan dilakukan. Mirip seperti pohon yang berbuah lebat, lalu digagalkan oleh derasnya curah hujan. Lalu yang disalahkan adalah angin.
Prinsip pohon buah, tidak pernah mengingkari hukum alam. Ia berjalan sesuai dengan kodrat peredarannya. Tidak akan mungkin saling mendahului. Karena semua bertumbuh tanpa menghentikan pihak lain yang berbeda prinsip dan paham dengan apa itu perbedaan. Bukankah musim buah juga tidak akan serentak, kecuali jenis buah tertentu. Misalnya musim duren, biasanya sering berpasangan dengan musim manggis. Padahal kedua buah ini tidak bisa dikonsumsi bersamaan.
Dari sini saja kita menjadi paham, kenapa tidak berbuah pada waktu yang berbeda. Sangat bisa jadi ini menjadi pelajaran bagi kita, bahwa tidak perlu ada pemaksaan untuk mengonsumsinya secara serampangan. Karena ada bahaya yang ditimbulkannya. Tentu saja itu dilakukan dengan pikiran cerdas dan tidak memihak. Sehingga duren dan manggis tidak merasa diduakan. Lalu yang satu merasa lebih penting dari yang lainnya.
Konyolnya lagi, indikasi untuk menyalahkan salah satu jenis buah tadi dengan alasan karena lebih dekat kepada konsep kapitalis. Sehingga sang duren menjadi marah. Sementara pada waktu yang bersamaan, jalanan yang ditempuh oleh manggis, ia harus mengeluarkan sejumlah uang, sebagai biaya/sewa melewati jalan berbayar tersebut. Bukankah itu jauh lebih kapitalis dari sang duren. Atau karena duren itu memiliki label "Duren Bangkok" sehingga disebut kapitalis. Lalu jalan yang berbayar tadi mau disebut apa.
Aneh tapi nyata, jalanan berbayar yang sudah jelas melanggar prinsip kerakyatan, dielu-elukan sebagai buah dari hasil kepemimpinan mereka, padahal juga sangat jelas itu milik kapitalis melalui tangan pengusaha swasta. Entah sampai kapan pula mereka menguasainya. Ditambah lagi barter bisnis barang. Yang masuk dari Amrik bebas pajak, tapi yang keluar menuju Amrik bayar pajak 12%. Kurang kapitalis apa lagi ini namanya. Tapi buahnya, mereka klaim sebagai sebuah keberhasilan.
Kita jadi malu dengan duren dan manggis. Walau tidak dikonsumsi bersamaan, tapi tetap berbuah hampir pada musim yang sama dan secara bersamaan dalam rentang waktu yang relatif sama. Karena masing-masing paham, bahwa untuk menyenangkan rakyatnya, mereka bisa duduk mesra, tanpa dusta walaupun sedikit berbahaya. Karena yang satu berduri tajam, satunya hitam legam tapi dengan mudah dideteksi berapa isinya tanpa bisa berbohong. Buah manggis akan dengan mudah diketahui isinya, berdasarkan jumlah bilah yang tertulis dibawah buahnya.
***
~~~ Mendalo Mas, 230725 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
