Nilai itu Bukan Angka
Tantangan Hari ke-2005
#TantanganGurusiana-6
***
Saat di penghujung kegiatan pembelajaran, baik itu semester ganjil maupun semester genap alias kelulusan dan kenaikan kelas, maka sudah menjadi perbincangan umum dibanyak sosial media. Terutama terkait nilai rapor, juara kelas dan segala pernak-pernik yang menghiasinya.
Ada anggapan bahwa banyak guru mendongkrak nilai, ada yang menyebutnya dengan istilah keren "sedekah nilai" serta kritikan tajam atas perilaku tersebut. Entah siapa yang mulai dan siapa pula yang pantas disalahkan dari banyaknya fenomena tersebut. Yang jelas, tidak serta semua kesalahan itu bersumber dari guru.
Sejak pertama kali bergelut dengan profesi ini, dimulai dari bertugas sebagai mahasiswa PPL (Program Pengajaran Lapangan) tahun 1998 di Padang. Terkait bagaimana dengan memberikan nilai, tidak ada yang aneh. Semua diberikan sesuai dengan apa yang dicapai oleh siswa. Tidak ada istilah nilai kasihan, nilai balas budi, nilai sedekah dan lain sebagainya.
Setelah benar-benar sebagai guru di sekolah, barulah terlihat beberapa kejadian aneh terkait pemberian nilai. Saya secara pribadi, saat awal pertemuan dengan siswa, akan menyampaikan beberapa hal terkait nilai. Saya tidak fokus dengan bagaimana capaian ulangan harian dan caturwulan/semester (yang waktu itu masih dengan sistim caturwulan).
Jika sejak awal sudah disampaikan kepada anak, bahwa nilai itu tidak hanya bercerita tentang angka-angka. Tapi lebih jauh dari itu, ada karakter yang harus menyertainya. Nilai tinggi menjadi tidak bermakna manakala diraih dengan cara yang tidak baik. Karena tidak ada jaminan, anak yang nilainya selalu tinggi lebih hebat dari temannya, lalu nanti akan menjadi lebih sukses.
Anak yang memiliki karakter kuat, akhlaknya baik, tahan terhadap berbagai tekanan, tidak mudah menyerah dan bisa menerima semua teman-temannya tanpa membedakan suku, ras, agama dan golongan, apalagi dari materi (kaya atau miskin), maka anak yang seperti inilah yang sebenarnya akan mampu bertahan di dunia kerja. Bidang apapun yang ia tekuni, maka bisa dipastikan akan dapat diterima oleh semua pihak.
Jangan terjebak dengan berapa nilai yang didapatkan dan berada diperingkat berapa (juara kelas atau bukan), maka sang anak akan menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan validasi dari teman-temannya. Demikian juga orang tuanya akan melakukan hal yang sama. Karena menjadi sebuah kebanggaan dan bisa digadang-gadangkan dapat dengan mudah masuk ke perguruan tinggi dari jalur khusus (prestasi akademik alias nilai rapor). Padahal aslinya tidak seperti yang sebenarnya.
Mulailah bijak dengan hal-hal yang kurang bermakna. Untuk apa nilai tinggi, tapi didapatkan dengan cara yang kurang elok. Bahkan tidak jarang, orang tua memberikan hadiah dan sejenisnya kepada guru, wali kelas dan pihak terkait, dengan harapan akan memberikan kemudahan kepada anaknya terkait nilai akademik. Ingat, sesuatu yang didapatkan dengan cara yang "tidak elok" pasti akan menuai hasil yang tidak baik pula.
***
~~ Mendalo Mas, 110725 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
