Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Perahu Retak yang Bersiap Tenggelam
Ilustrasi gambar: ChatGPT

Perahu Retak yang Bersiap Tenggelam

Tantangan Hari ke-2018

#TantanganGurusiana-6

***

"Perahu negeriku, perahu bangsaku. Menyusuri gelombang. Semangat rakyatku, kibar benderaku. Menyeruak lautan Langit, membentang cakrawala, di depan Melambaikan tantangan.

Di atas tanahku, dari dalam airku. Tumbuh kebahagiaan. Di sawah kampungku, di jalan kotaku. Terbit kesejahteraan. Tapi ku heran di tengah perjalanan. Muncullah ketimpangan

Aku heran, aku heran. Yang salah dipertahankan. Aku heran aku heran. Yang benar disingkirkan.

Perahu negeriku, perahu bangsaku. Jangan retak dindingmu. Semangat rakyatku, derap kaki tekadmu. Jangan terantuk batu. Tanah pertiwi, anugerah Ilahi. Jangan ambil sendiri.

Tanah pertiwi, anugerah Ilahi. Jangan makan sendiri. Aku heran, aku heran. Satu kenyang, seribu kelaparan. Aku heran, aku heran. Keserakahan diagungkan.

Aku heran, aku heran. Yang salah dipertahankan. Aku heran, aku heran. Yang benar disingkirkan." (Perahu Retak, Franky Sahilatua).

Sejenak melepas lelah, setelah melihat berbagai drama kehidupan. Bahwa ternyata, jujur dan berintegritas itu tidak mudaj. Tidak semudah berteriak diatas mimbar dan podium saat berorasi dan berkampanye. Mari sejenak kita melihat disekitar kita. Ada berapa banyak ketimpangan dan kezaliman, yang secara kasat mata terlihat dengan jelas. Tidak perlu menjadi orang pintar. Cukup punya hati yang bersih saja (tapi sayang, hatinya kotor), sehingga masa bodoh dengan apa yang sedang terjadi.

Bait lagu legenda di atas, mengingatkan kita apa yang kini sedang terjadi disebuah negeri. Perahu retak itu semakin menganga. Bukannya menimba air yang masuk, tapi malah membuat retak ditempat yang lain, sembari menyingkirkan dan membuang orang berjuang memperbaikinya. Gambaran kehidupan yang makin kacau dan tidak terarah, menjadi pertanda bahwa kapal besar tersebut sedang mengalami masalah besar. Bukannya memperbaiki, tapi sibuk menyembunyikan kesalahan dengan narasi seolah menjadi korban.

Pedih dan pilunya hati mereka yang berjuang keras menambal semua retakan, suara dan teriakan yang mereka dengungkan seolah hilang diterbangkan angin. Jika berani berteriak lebih keraa lagi, maka bersiaplah menjadi "pesakitan" dan merasakan pahit dan beratnya perjuangan.

Kini kita hanya bisa berharap, retakan perahu tidak menyebabkan banyak korban yang berjatuhan dan tenggelam. Walaupun satu per satu mereka yang peduli, perlahan tapi pasti mereka hantam dengan palu godam kekuasaan. Tidak ada pilihan untuk mundur bagi generasi pejuang. Bukan menjadi generasi oportunis, memanfaatkan kesempatan sambil menghadang mereka yang berseberangan, sembari meneriakkan seolah paling peduli, padahal aslinya adalah musuh sejati yang berpura-pura menjadi orang suci.

***

~~ Mendalo Mas, 240725 ~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post