Tak Dianggap, Tetap Bahagia
Tantangan Hari ke-2004
#TantanganGurusiana-6
***
Pertama kali bergabung di tempat yang baru, maka sudah bisa dipastikan tantangan yang dihadapi tentu saja sangat besar. Tinggal bagaimana kita menyesuaikan diri, tapi tanpa meninggalkan identitas diri (karakter) yang sudah melekat dengan diri kita. Tidak semua bisa bertahan, bahkan ada yang akhirnya menyerah lalu menggadaikan idealismenya, yang penting dapat diterima dalam komunitas baru tersebut.
Hadir dengan gaya dan cara yang sudah melekat dengan dirinya, bukanlah hal buruk dipertahankan, selama itu adalah hal yang baik. Apalagi sampai menukarkannya dengan "mencari muka" atau tepatnya sering di sebut "penjilat" kepada atasannya. Kehadiran kita seharusnya bisa memberikan suasana baru tanpa perlu ditukar dengan hal yang tidak baik, walaupun hanya sekadar untuk dapat diterima ditempat baru tersebut.
Sebagai guru baru, sayapun tetap mencoba apa adanya dihadapan siswa. Tidak perlu ada sandiwara, ataupun berusaha melakukan sesuatu agar mereka suka. Memang saya pertama kali datang dan mengajar dalam kelas, tetap dengan wajah dingin, tepatnya tanpa ekspresi berlebihan. Ini saya lakukan agar tahu sifat asli siswa di depan dan dibelakang saya.
Akhirnya, ada dua sosok siswa yang datang dan berbicara panjang lebar, agar saya berkenan membimbing mereka dalam menyiapkan materi dan pengambilan data penelitian, guna persiapan ke nasional dalam ajang Lomba Penelitian Ilmiah Remaja, yang diselenggarakan oleh LIPI. Tentu saja sebuah kejutan bagi saya yang guru baru dan hanya beberapa hari bergabung di sekolah ini.
Keberhasilan membimbing siswa, akhirnya pada tahun 2004, ada satu siswa yang juga sering berdiskusi dan membahasa segala sesuatu terkait persiapan menghadapi seleksi Olimpiade Sains Nasional. Siswa tersebut berhasil lolos ke tingkat nasional. Sebagai guru, yang sedikit banyaknya terlibat dalam proses pembinaan, tentu saja bangga dan bahagia atas keberhasilan siswa tersebut.
Namun apa daya, kebahagiaan itu tidak lama. Ternyata apa yang telah dilakukan tidak mendapat perhatian dan bahkan tidak dianggap sebagai pembinanya. Mungkin karena bukan guru hebat, ditambah lagi kehadirannya di sekolah, juga merupakan guru baru. Untungnya sebelum bergabung di tempat ini, saya sudah mempersiapkan diri, jika apa yang telah dilakukan tidak mendapat tempat dan bahkan tidak dianggap. Syukur dan bahagia tetap diperlihatkan, bahwa perlakuan yang mereka lakukan tidak akan mampu menukar kebahagiaan tersebut menjadi duka lara.
***
~~ Mendalo Mas, 100725 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
