(Bukan) Wakil Rakyat
(Bukan) Wakil Rakyat
Tantangan Hari ke-2048
#TantanganGurusiana-6
***
Bukan ikutan menjadi latah, karena makin banyak keanehan yang melanda negeri tercinta. Fenomena ini menandakan semakin suramnya sebuah negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo. Apakah iya, moto tersebut masih bisa disematkan kepada negeri tersebut.
Negeri yang dianugerahi oleh Tuhan dengan kekayaan alam yang melimpah, sumber daya manusia yang hebat juga sangat banyak. Tapi apa yang dirasakan oleh rakyatnya, jauh dari kata baik. Kekayaan alam yang melimpah ternyata bukan dinikmati oleh rakyat, tapi oleh segelintir orang yang dengan mudahnya mengeruk kekayaan alamnya dengan serabutan dan sangat mengerikan.
Sementara disebuah gedung mewah, mereka yang mengaku sebagai wakil rakyat, dengan kelakuan yang menyakiti hati rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi di negeri tersebut. Sepertinya kepada mereka sudah tidak pantas disematkan sebagai wakil rakyat. Sebagai wakil, tentunya harus tunduk dan ikut dengan sang pemilik sah kedaulatan, yaitu rakyat. Wakil yang semestinya tunduk dengan sang ketua (rakyat) yang mereka wakili. Kenapa kepada mereka disematkan kata wakil. Karena pemilik suara dan hak yang sah menurut undang-undang adalah rakyat. Tapi sayangnya, mereka berkhianat dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagai wakil.
Jika terus menerus seperti ini, sudah tidak pantas lagi kepada mereka disematkan wakil rakyat. Mereka bukan wakil rakyat. Mereka hanya sekelompok orang yang kehadirannya tidak lebih baik untuk rakyat yang mereka wakili. Perilaku yang tidak pantas, mereka tampilkan didepan publik. Itu sangat jelas menyakiti hati rakyat yang kini dalam keadaan hidup susah, ekonomi yang katanya meroket, tapi hanya deretan angka penuh kepalsuan. Rakyat tetap saja menderita, tanpa tahu kemana harus mengadu.
Mereka bukanlah wakil rakyat, tapi sekelompok orang yang telah berkhianat dengan sumpah dan janjinya, berkhidmat untuk rakyat. Jika sumpah dan janji dibawah kitab suci saja mereka berani langgar, apalagi jika hanya janji-janji manis saat kampanye. Kehadiran para pengkhianat bangsa ini (sepertinya kalimat ini yang lebih pantas disematkan kepada mereka), hanyalah skenario kecil dari banyaknya kasus yang sedang melanda negeri tersebut. Jika terus dibiarkan, maka akan semakin jauh kehidupan rakyatnya dari kata makmur dan sejahtera.
Sudah waktunya, rakyat sebagai pemilik kedaulatan yang sah, menuntut tidak lagi kepada mereka, tapi melangitkan doa, semoga apa yang mereka lakukan mendapatkan balasan yang setimpal pula dari Tuhan. Penipu atas nama rakyat, sudah waktunya dipulangkan ke habitatnya. Jangan mau lagi tertipu dengan janji manis, lalu memberikan sedikit bingkisan, tapi penderitaan yang dirasakan sampai lima tahun yang akan datang. Sampai mereka habis masa jabatan. Itupun mereka yang tidak jelas yang dikerjakan, masih mendapatkan gaji pensiun seumur hidup. Kurang jahat apa pemimpin negeri ini dengan rakyatnya.
***
~~ Mendalo Mas, 230825 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
