Guru Bukan 'Beban'
Tantangan Hari ke-2044
#TantanganGurusiana-6
***
Sepertinya heboh dengan bendera "One Peace" belum terlalu menghentak jagad raya dan alam semesta sebuah negeri yang katanya kaya raya. Kenapa tidak begitu heboh ditengah masyarakat? Karena kehadirannya memang sudah menjadi bahan cerita sehari-hari rakyat yang merasa hak-haknya ditindas. Ketidakadilan yang terpampang jelas didepan matanya, lalu mereka yang berkuasa dan memiliki banyak uang, bisa dengan mudah membeli kemenangan di pengadilan yang katanya "adil."
Belum meriah rasanya dengan ramainya berbagai jenis perlombaan tahunan yang khusus diadakan dalam perayaan agustusan. Rakyat kecil punya cara sendiri dalam mengenang jasa para pahlawannya. Sangat bisa jadi ada diantara mereka, garis keturunannya mengalir darah para pejuang dan pahlawan negeri ini. Tapi mereka jangankan bisa menikmati negeri yang kaya ini, tidak jarang mereka akhirnya memilih tinggal ditempat kumuh, karena ketiadaan biaya hidup dan tinggal di rumah yang dulu dihuni oleh kakeknya yang seorang pejuang.
Kado indah itu, justeru kini dirasakan oleh guru yang ada di negeri tersebut. Karena guru dianggap sebagai beban negara oleh salah seorang menteri. Gajinya yang tidak seberapa, merupakan beban berat sebuah negara yang kaya tersebut. Pada waktu yang bersamaan, ada pihak yang sedang berpestapora, berjoget ria bersama karena penghasilannya meningkat pesat (tiga juga per hari). Jika dikalikan dengan 30 hari, maka sudah bisa dibayangkan berapa nominal yang akan mereka bawa pulang. Belum lagi beraneka ragam tunjangan yang juga mereka dapatkan diluar gaji yang fantastis tadi.
Jangan ditanya kerjaan mereka apa. Sangat jauh dari kata mewakili suara hati rakyatnya. Mereka hanya akan datang dengan senyuman dan sedikit bingkisan, agar kembali mendapatkan suara saat pemilihan. Setelahnya kembali lupa dengan berbagai pesan yang mereka sampaikan. Kini apa yang bisa diharapkan kepada para durjana yang mengaku sebagai wakilnya rakyat tersebut. Rakyat hanya bisa mengeluh, tanpa tahu kapan akan berubah menjadi sedikit senyuman tulus tanpa beban.
Guru, sungguh kini profesi ini sedang menghadapi ujian yang tidak ringan. Dianggap sebagai beban oleh negara, yang katanya mengedepankan pentingnya pendidikan. Sementara gurunya yang berada digaris terdepan hanya sebagai beban negara. Miris dan sangat melukai hati seorang pendidik. Andaikan Ki Hajar Dewantara masih hidup, yakinlah beliau akan duduk termenung dan menangis melihat kondisi negerinya menjadi seperti ini. Atau jangan-jangan ini semua memang sudah mereka rancang, agar rakyatnya tetap bodoh, agar mudah ditipu dan didiamkan dengan uang sogokan yang bernama bantuan langsung tunai, yang setelah didapatkan langsung hilang tanpa bekas.
Duhai pendidik, tetaplah berada digaris terdepan sesuai amanah Undang-undang. Yakinlah, perbuatan baik kita akan berbalas dengan kebaikan pula. Demikian juga dengan mereka yang berniat jahat dengan profesi mulia ini, kejahatan dan keburukan itu pasti akan kembali pula kepada mereka. Jangan bersedih hati dan bermuram durja. Ada anak hebat generasi bangsa yang harus kita siapkan dengan jauh lebih baik, untuk menggantikan mereka para "penjahat berdasi" dengan narasi yang kejam dan keji. Tidak hari ini, tapi dimasa yang akan datang. Yakinlah, anak-anak hebat yang karakternya kuat, akan melibas semua penjahat yang telah bermufakat untuk menguras habis kekayaan negeri ini.
***
~~ Mendalo Mas, 190825 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
