Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
IceBreaking itu Harus Mengedukasi
Ilustrasi gambar: Dokumen Pribadi

IceBreaking itu Harus Mengedukasi

Tantangan Hari ke-2029

#TantanganGurusiana-6

***

Semakin ke sini, semakin terlihat ke sana. Ibarat kata, terjadi distorsi antara apa yang diucapkan dengan yang dilakukan. Biasanya, jika melihat fenomena ini, ada yang tersadarkan bahwa ada yang salah dari semua hang terjadi. Namun ada pula yang menganggap semua yang terjadi adalah hal yang biasa-biasa saja. Tentu saja itu tergantung dengan nilai yang dianut.

Menilik semakin ramainya "joget-joget" hampir di semua kegiatan pelatihan, apalagi melibatkan guru serta bercampur antara laki-laki dan perempuan. Lalu semuanya pada joget-joget, dengan berbagai bentuk gaya. Manakala kita melihat kegiatan tersebut, pernahkah terlintas dalam pikiran kita, apakah memang seperti itu sebagai guru.

Setiap kita sangat bisa jadi memiliki pandangan yang berbeda terkait fenomena joget-joget tersebut. Tentu saja dari cara pandang dan dalil yang bermacam-macam pula. Bagi yang menganggap ini adalah hal yang biasa, pasti menggunakan prinsip dan pendekatan bahwa jadi guru itu jangan terlalu serius, atau alasan lain yang menguatkan bahwa joget-joget tersebuh adalah perbuatan yang sah.

Sebagai pribadi yang juga seorang guru, saya melihat kegiatan joget-joget ini adalah bentuk pelemahan harkat dan martabat seorang guru. Karena nilai yang saya anut dan pahami, bahwa guru itu adalah sosok yang mulia. Kemuliaannya bukan saja apa yang dia sampaikan kepada murid, tapi juga dari sikap yang dia tampilkan. Tepatnya satu kata dengan perbuatan. Bagi yang tidak sepakat, buka kembali buku-buku yang membahas peran dan posisi guru, yang dikemukakan oleh ahli agama (Islam, red).

Jadi singkatnya, fenomena "joget-joget" ini, apa iya sebagai bagian dari icebreaking agar suasana menjadi santai dan lain sebagainya. Sebagai guru, saya sangat sering mengikuti kegiatan pelatihan, icebreaking yang diajarkan sangat mengedukasi. Bagaimana memancing rasa ingin tahu siswa, meningkatkan daya ingat, kekompakan dalam kelompok, tanpa ada acara joget-joget tadi. Apalagi kondisi sekarang, indeks literasi dan numerasi anak negeri ini berada pada titik terendah dibandingkan dengan negara tetanga.

Apakah tidak ada cara lain, agar icebreaking tadi diarahkan dalam menumbuhkan semangat literasi anak didik, begitu juga dengan numerasi. Nama tokoh sastrawan terkenal dengan berbagai karyanya, hampir tidak dikenal oleh anak didik. Atau jangan-jangan gurunya sendiri juga tidak tahu, apalagi membaca karyanya. Begitu juga dengan numerasi. Tambah, kali dan kurang saja, ada banyak anak-anak yang tidak bisa menjawab dengan benar. Seandainya icebreaking tadi diarahkan pada dua komponen ini saja, saya yakin tidak ada lagi acara joget-joget yang tidak jelas itu. Sekali lagi jangan marah dan tersinggung dengan pendapat di atas. Karena jangankan beda pendapat, beda pendapatan saja sangat dibolehkan.

***

~~ Mendalo Mas, 040825 ~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post