Selalu dengan Senyuman
Tantangan Hari ke-2052
#TantanganGurusiana-6
***
Menjadi guru itu seru. Walau dengan gaji yang kadang tidak cukup untuk seminggu (ini asli lho, karena waktu itu masih jadi guru honorer). Itupun dibayarnya setiap tiga bulan. Tepat saat siswa ujian caturwulan, barulah gaji kita sebagai guru honorer dibayarkan oleh bendaharawan sekolah. Mau tahu berapa yang dibayarkan? Ya cuman Rp. 120.000. Tahu kah pembaca berapa gajinya setiap bulan? Yups benar sekali, hanya Rp. 40.000.
Dari gaji yang dibayarkan per tiga bulan sekali itu, jika digunakan untuk ongkos mobil umum berangkat ke sekolah, jelas sangat tidak cukup. Uang yang hanya Rp. 40.000 itu jika dibayarkan untuk berangkat dan pulang sekolah, hanya cukup untuk satu minggu saja. Dengan indeks gaji seperti itu, jangan coba-coba berpikir untuk jajan di kantin sekolah. Nanti bisa mimisan memikirkannya. Itulah mengapa, saat ada saran bahwa penghasilan guru itu melibatkan masyarakat (lalu heboh dengan berbagai klarifikasi), sudah tidak penting pakai banget klarifikasi tersebut. Karena guru sudah terbiasa dengan kriminalisasi dan janji palsu dari pejabat. Tidak akan berpengaruh dengan tugas dan tanggung jawabnya dalam mendidik anak bangsa.
Menghadirkan senyuman ditengah ganasnya serangan (lebih mirip dengan genosida), dalam upaya melemahkan peran guru. Lihat saja saat ada siswa yang melanggar aturan, jika pelakunya anak pejabat, siap-siap sang guru akan babak belur, baik fisik maupun mental. Diserang dari berbagai sisi. Seolah sang guru adalah seorang pendosa. Saat pelanggaran itu dibiarkan, guru juga menjadi objek tempat menimpakan kesalahan. Kenapa tidak menegakkan aturan. Begitulah serunya posisi dari profesi yang satu ini.
Sungguhpun demikian beratnya cobaan dan ujian, saya kok belum pernah mendengar guru secara bersama-sama mengundurkan diri, apalagi mengancam pihak lain yang telah melemahkan dan merendahkan profesinya. Guru selalu hadir dengan senyuman (sambil meringis menahan gejolak hatinya yang terluka). Anehnya senyuman itu tetap hadir dan tampil tanpa polesan. Karena memang, guru bukan wakil rakyat yang selalu hadir dengan kepalsuan. Guru hadir karena panggilan hati. Sehingga sakit dan derita yang datang menyerang, sudah tak mampu membuat dirinya goyah.
Kini sang guru kembali hadir dengan senyuman terindahnya. Setelah sekian lama dihebohkan dengan kata-kata yang kurang pantas. Menyibukkan diri dengan tugas mulia, menyiapkan generasi masa depan yang jauh lebih baik. Agar tidak ada drama san sandiwara yang melelahkan datang mendera. Biarkan saja semua gonggongan itu berlalu bersama hembusan angin. Nanti juga menghilang dengan sendirinya. Tetaplah hadir dengan senyuman. Karena lelahnya akan dibayar tunai nanti di suatu masa.
***
~~ Mendalo Mas, 270825 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
