Berkarya dan Bermakna
Tantangan Hari ke-2060
#TantanganGurusiana-6
***
Sebagai guru Sastra Fisika (mungkin di kampus belum terdengar ini makhluk jenis apa), tidak cukup hanya bisa bermain kata di dalam kelas, menghibur siswa yang sangat kesulitan memahami konsep fisika, seperti kusutnya masalah di negeri sebelah. Maka melalui kegiatan penuh makna, mampu meredam kusut-masainya wajah siswa.
Bermain kata (bahkan memelesetkannya dengan maksud senda gurau) tanpa harus menyakiti, maka suasana tegang dengan rumus fisika yang rumit, berubah menjadi lebih santai dan penuh tawa. Namanya juga guru sastra fisika. Dari berbagai kegiatan di kelas, memunculkan banyak ide. Diantaranya adalah menulis buku bersama. Berangkat dari canda saat belajar, menumbuhkan rasa yang mungkin tidak semuanya bisa terucap dengan sempurna, tapi melalui rangkaian kata, semua rasa bisa tersampaikan.
Akhirnya, melalui angkatan XXIX, dengan tajuk membuat laporan hasil kunjungan ke Komplek Percandian Muaro Jambi, digagaslah menulis bersama dalam bentuk buku antologi. Kaget? Tentu saja. Karena tidak semua siswa pernah melakukannya. Yang pasti, hanya dua siswa yang sudah pernah terlibat dalam dunia kepenulisan. Saat masih di Sekolah Dasar (SD), dua anak ini terlibat dalam kelas menulis Satu Guru Satu Buku (Sagusabu) di kota Sungai Penuh. Mereka berdua inilah saya manfaatkan sebagai pemicu temannya yang lain untuk mau menulis. Akhirnya, saat Gelar Karya P5, cover bukunya diluncurkan bersama pihak Komite Sekolah.
Selesaikah sampai disana? Tentu saja tidak. Pada angkatan berikutnya, masih dalam nuansa menuntaskan tugas proyek P5, kembali saya gerakkan anak-anak menulis buku bersama, masih dengan tema budaya daerah di kawasan Provinsi Jambi, baik dalam bentuk fiksi maupun nonfiksi. Hasilnya sangat memuaskan. Buku yang diterbitkan oleh MediaGuru ini, sukses mengantarkan mereka menjadi dikenal oleh pejabat publik di Provinsi. Karena peluncuran buku, sengaja saya pilihkan pada momen yang tepat. Saat Pembaretan/Pengukuhan Siswa Baru angkatan XXXI, buku bersama hasil karya siswa angkatan XXX, sukses diluncurkan dengan disaksikan oleh ratusan orang tua siswa bersama semua siswa baru serta tamu dan undangan lainnya
Sampai disana berhentikah "ide gila" menulis bersama ini? Tentu saja tidak. Tahun ini kembali mereka saya "kotori" otaknya untuk bisa menulis bersama. Lalu apa target berikutnya? Insya Allah hari Jumat, 5 September 2025 (warna tanggalnya jelas merah di kalender), saya memulai terobosan dengan menggelar Geliat Literasi Siswa. Kelas menulis mirip Satu Siswa Satu Buku. Targetnya, mereka bisa menyelesaikan naskah lengkap sebelum bulan Oktober. Sehingga bisa ikut bersama peluncuran Cover buki saat acara puncak Temu Nasional Guru Penulis (TNGP) 2025 di Jakarta.
Sebagai guru Sastra Fisika, tentu saja sebuah capaian yang tidak luar biasa. Tapi benar-benar luar biasa. Karena semua digerakkan dalam senyap, tanpa ada rekayasa dan upaya "nyari muka" dengan pihak yang punya kepentingan. Mengajarkan anak berkarya dalam senyap, tapi penuh makna dan memberikan kesan "istimewa" bagi mereka. Tidak perlu berteriak dengan lantang, cukup menggerakkan jari tangan di setiap huruf di komputer sekolah, mereka mampu membuatkannya menjadi lebih istimewa.
***
~~ Mendalo Mas, 040925 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
