Ketika Jujur itu Salah
Tantangan Hari ke-2073
#TantanganGurusiana-6
***
Ketika pertimbangan perasaan yang lebih dominan muncul, biasanya kita cenderung abai terhadap hakikat sebuah kejujuran. Logika sudah tidak mampu lagi mengarahkan pendapat yang dimunculkan. Karena pertimbangan rasa enak dan tidak enak, membuat banyak orang memilih berpura-pura, seolah semuanya baik-baik saja.
Besarnya resiko yang akan dihadapi, juga menjadi pertimbangan banyak orang memilih tidak jujur. Tapi anehnya, perilaku ini tanpa disadari sudah merusak dan meluluhlantakkan sendi kehidupan. Orang tidak pernah merasa bersalah atas kebohongan yang ia lakukan. Melupakan esensi dan pentingnya integritas, perlunya menempatkan kejujuran atas semua tindakan, sepertinya era sekarang semakin susah dan rumit. Resiko minimal yang akan dihadapi adalah menjadi musuh bersama dalam komunitas yang indeks kejujurannya rendah.
Saya mengambil pelajaran sederhana dari sebuah dialog orang tua siswa kepada anaknya, kebetulan saya adalah wali kelasnya. Si Mbok (panggilan anak ke ibuknya) menyampaikan agar anaknya tetap berada di jurusan IPA, tidak boleh pindah ke IPS. Lalu si anak menjawab, "untuk apa saya bertahan di IPA, jika saya sudah disiapkan untuk memlanjutkan kuliah ke Fakultas Hukum" ujar si anak. Sederhana memang yang disampaikan si anak, tapi jawaban si Mboknya yang membuat saya tersentak kaget.
"Amel kira kuliah di jurusan Hukum harus dari IPS? tanya si Mbok dengan tegas. Justru Mbok meminta Amel di IPA, supaya nantinya saat kamu kuliah di jurusan Hukum, jika kamu jadi Hakim, maka kamu memutuskan dan mengambil sebuah keputusan sepenuhnya menggunakan logika, bukan dengan perasaan. Apalagi jadi Notaris. Amel harus benar-benar jeli dengan pengukuran lahan dan lain sebagainya. Kalau tidak, selain berdosa, juga akan memicu konflik dibelakang hari.
Begitu juga saat di dunia kerja. Kota dihadapkan pada perilaku jujur dengan penuh resiko, atau mengambil jalan aman dengan cara memilih berdamai dengan kebohongan, yang penting selamat dan tidak dimusuhi oleh rekan kerja. Kadang kita tanpa sadar, sedang menjerumuskan banyak orang dengan berbohong. Karena sangat bisa jadi kebohongan tersebut oleh orang lain menjadi hal yang biasa. Jika terus menerus dilakukan, akan merusak semua tatanan ditempat kerja.
Biarlah dimusuhi, karena tetap berdiri pada kejujuran dan menjaga integritas. Karena nilai seseorang bukan pada kesetiaannya terhadap seseorang, lalu menyamarkan nilai kebenaran. Karena kerusakan negeri ini, karena hilangnya keberanian orang baik dalam menyuarakan kebenaran dan kejujuran.
Perlu diingat, kejujuran dan kebenaran tidak akan pernah kalah. Walaupun sangat bisa jadi kebenaran dan kejujuran itu dianggap salah. Sampai masanya, semua akan terlihat. Bahwa kebenaran dan kejujuran akan menemukan jalannya sendiri dalam menguak misteri dari kebohongan. Sekalipun kebohongan dilakukan dengan rapi dan terstruktur. Karena tidak ada kebohongan dan kemunafikan yang abadi.
***
~~ Mendalo Mas, 170925 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
