Selalu dengan Senyuman
Tantangan Hari ke-2066
#TantanganGurusiana-6
***
Menjadi guru itu seru dan penuh kejutan. Bukan karena gajinya yang besar, apalagi dengan berbagai macam tunjangan. Lagi-lagi bukan tentang itu, jauh sekali (tepatnya berkali-kali). Karena menjadi guru itu juga bukan karena ingin mencari uang. Kalau tujuannya itu, mending jadi pedagang saja. Namun bukan berarti guru itu tidak perlu disejahterakan. Sangat naif sekali, jika tuntutan yang bermacam-macam dialamatkan kepada profesi ini, lalu dibayar seadanya.
Nah, untuk semua cerita di atas, itu hanyalah batu kerikil kecil yang tidak akan membuat sang guru menyerah kalah. Apalagi sampai membuat demo tandingan dan besar-besaran. Itu jauhnya bukan lagi berkali-kali, tapi lebih dari seribu juta kali. Kurang baik apa guru. Sampai ada rekan gurunya diserang habis-habisan orang tua siswa, LSM dan lain sebagainya. Kok tidak pernah terlihat ada demo berjilid-jilid membela rekannya.
Pernah sekali, kejadian guru SD yang dituduh melakukan tindak kekerasan terhadap muridnya, yang ternyata adalah anak aparat. Lalu dengan lebay menceritakan bahwa dia adalah korban kekerasan oleh gurunya. Sampai akhirnya sang guru ditangkap. Mendapat ancaman dan lain sebagainya. Setelah dispiralkan melalui sosial media, barulah kasus tersebut menjadi perhatian banyak pihak. Endingnya? Ya kembali seperti biasa dan seolah tidak ada masalah apapun sebelumnya.
Kembali menilik apa yang dilakukan oleh guru yang terkenal sebagai guru paling jahat dan paling kejam di sekolah. Karena dia lebih banyak mengambil peran menjadi pendidik. Sehingga penekanannya pada pentingnya mengajarkan siswanya menjadi sosok yang berintegritas, tidak cukup hanya pintar dan memiliki soft skill yang baik. Manakala tidak memiliki karakter akhlak mulia yang baik, maka jangna berharap terlalu banyak bangsa ini kedepannya menjadi lebih baik.
Apalagi jika tidak memiliki ketiga-tiganya. Sudahlah tidak pintar, tidak berintegritas dan tidak pula memiliki soft skill yang baik. Maka jangan terlalu berharap akan terjadi perubahan. Ditambah lagi tidak punya orang dalam. Maka tamatlah sudah harapan untuk bisa menjadi lebih baik. Berat? Tentu saja tugas ini berat. Karena sang guru harus siap menghadapi hal buruk dalam menjalankan tugasnya. Bukan hanya dengan orang tua siswa, tapi juga akan mendapatkan cibiran dari rekan sejawat.
Manakala sudah menemukan hal yang diceritakan di atas, maka rumusnya sederhana, hadirkan banyak senyuman. Bukan berarti tidak berani melawan, tapi ada nilai yang kepada anak sudah diajarkan, jangan dilawan dengan cara yang kurang elegan. Tapi hadapi dengan meninggikan integritas dan karakter yang baik, yang sangat bisa jadi orang lain belum tentu memilikinya. Orang yang masih menyibukkan dirinya dengan memberi contoh, tapi tidak bisa menjadi contoh, maka cepat atau lambat akan hilang kepercayaan anak didiknya terhadap diri yang bersangkutan.
Waspadalah, waspadalah. Karena menjadi contoh itu berat. Apalagi terkait hal yang baik dan menanamkan akhlak mulia. Beratnya tidak seperti yang dibayangkan banyak orang. Atau sangat biasa jadi sangat ringan bagi yang sudah sejak awal memang berada pada posisi berat tersebut, lalu menjalaninya dengan penuh ketulusan dan menghadapinya dengan banyak senyuman.
***
~~ Mendalo Mas, 100925 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
