(Bukan) tentang Keberuntungan
Tantangan Hari ke-2100
#TantanganGurusiana-6
***
Pernah kita mendengar ada yang mengatakan bahwa ia sering mendapatkan keberuntungan dalam kesehariannya. Lalu ada pula yang merasakan bahwa dunia ini tidak adil. Ia yang telah berjuang dan berusaha dengan giat, namun yang didapatkan jauh dari harapan. Sehingga muncullah pendapat bahwa keberuntungan itu hanya untuk orang tertentu saja, atau mengaitkannya dengan satu sosok yang sering disebut dengan Dewi Keberuntungan.
Saya tidak dalam posisi membahas dewi keberuntungan, tapi tentang bagaimana semua peristiwa yang terjadi dalam hidup kita, adalah proses panjang dari apa yang telah dan pernah dilakukan pada masa lalu. Sehingga apa yang sekarang ia rasakan dan ia capai, sangat bisa jadi sebagai imbal balik dari apa yang dulu telah ia lakukan.
Misalnya, sebuah kebaikan yang pada masa lalu sering kita lakukan tanpa berharap apapun dari apa yang kita lakukan, ternyata tanpa terasa, ternyata kebaikan itu dibalas dengan cara yang sangat indah. Allah kirimkan orang yang sangat baik kepada kita, yang memberikan apapun yang menjadi keperluan dan kebutuhan kita. Itu semua bukanlah sebuah kebetulan.
Saya jadi ingat dengan kisah nyata. Saya diberikan tumpangan dari puncak Cisarua menuju loket Damri yang berada di kawasan Botani Square, kota Bogor. Si ibuk ini menceritakan, bahwa beliau pernah sedikit kecewa dengan tindakan suaminya. Sang suami menolong seorang guru yang berdinas di Papua (dulu Irian Jaya).
Sekian bulan bahkan hampir setahunan belum menerima haknya sebagai guru PNS di sana. Lalu datang ke Jakarta (kantor Mendikbud). Beliau menyelesaikan semua masalah yang dihadapi oleh sang guru tersebut. Semua hak-haknya sudah diselesaikan termasuk gaji dan segela pernak pernik yang menyertainya. Satu sen pun, beliau tidak mau minta kepada sang guru tersebut. Semuanya beliau lakukan karena Allah.
Kemarahan sang istri beliau diamkan saja. Sampai masanya si Bapak ini menyampaikan. "Coba Ibuk bayangkan, guru tersebut mengajar di tempat yang sangat jauh dari Jakarta, lalu mengurus semua hak-haknya yang belum dibayarkan oleh pemerintah. Masih tega kah kita minta upah dari apa yang kita lakukan?" ujar si Bapak ke istrinya.
Biarlah Allah yang balas semua kebaikan yang kita lakukan kepada guru tersebut. Bukan karena ingin mendapatkan keuntungan dari kesulitan yang guru tersebut hadapi selama ini, imbuh si Bapak, jelas ibuk dengan berurai air mata. Tentu saja, saya yang ikut mendengarkan juga berurai air mata. (Bersambung)
***
~~ Mendalo Mas, 141025 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
