Kelas tanpa Nama
Tantangan Hari ke-2097
#TantanganGurusiana-6
***
Setelah semua pengisi acara Pembaretan siswa kelas mendapatkan dispensasi masuk asrama tanggal 09 Oktober, setelah mereka diberikan Izin Bermalam (IB) sejak Sabtu, 04 Oktober, maka kampus terasa sangat sepi. Apalagi hanya mendapat tugas mengajar di kelas 10, yang siswanya baru masuk asrama hari Minggu, 12 Oktober.
Tapi ditengah sepinya suasana kampus, ada beberapa anak yang memilih tetap pulang lebih awal sesuai jadwal pada umumya teman mereka yang lainnya. Senin, 06 Oktober, mereka memilih kembali pulang ke asrama. Ada tugas dan target yang harus mereka selesaikan . Itupun setelah melakukan diskusi intens melalui saluran Whatsapp. Anak-anak yang memilih pulang lebih awal, tidak masuk kelas belajar. Karena memang statusnya masih dalam hitungan izin bermalam. Sehingga mereka bisa lebih leluasa bersama saya menyiapkan naskah Majalah Digital Sekolah.
Mengambil tempat di ruang VIP sekolah, saya membagi tugas kepada anak-anak terkait naskah mana saja yang harus segera di eksekusi. Akhirnya dari diskusi ringan itulah saya mencoba membuat rancangan siapa akan menempati posisi apa dan dengan siapa ia akan memulai mengerjakannya. Ini semua dilakukan dalam upaya memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak-anak mengembangkan dirinya.
Unit kegiatan penerbitan kampus (istilah yang pernah saya buat dulu), bukanlah hal baru. Karena jauh sebelumnya, saya bersama Mbak Rts. Eka E, juga menggerakkan siswa melakukan kegiatan penerbitan Tabloid GIATT (Gema Insan Akademika Titian Teras), sebuah nama jadi-jadian yang tiba-tiba muncul.
Maka berbagai ide "nakal" muncul menjadi sebuah gerakan menulis bersama anak-anak. Sayangnya, dalam perjalanan Mbak Eka pindah eekolah, sesuai dengan SK penempatannya, lalu saya sendiri sebagai tokoh pendirinya juga secara diam-diam dikeluarkan dari struktur redaksi.
Kehadiran komunitas tanpa ini, juga menumbuhkan harapan, bahwa penerbitan Majalah Digital Sekolah, yang namanya masih dirahasiakan dari publik dan dari mayoritas dewan guru. Ini semua dilakukan untuk menjaga irama kerja anak-anak bersama guru pembimbingnya, guru Sastra Fisika.
Bagi guru pembinanya, kegiatan ini lebih pada mengajarkan anak-anak berbagai keterampilan menulis, yang sangat bisa jadi tidak didapatkan saat belajar di kelas. Menulis itu tidak hanya memerlukan keahlian, tapi juga konsistensi. Jika yang bergabung angin-anginan, yang ada unit komunitas ini akan masuk angin. Akhirnya bubar. Semoga saja, komunitas tanpa nama ini (sampai nanti majalah ini diluncurkan saat TNGP), barulah komunitas resmi memiliki nama.
***
~~ Mendalo Mas, 111025 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
