Kelas Terbuka Hijau
Tantangan Hari ke-2109
#TantanganGurusiana-6
***
Sebenarnya sebelum dunia luar heboh dengan berbagai penemuan "terkini" katanya, seperti pendapat yang mengatakan bahwa mengajar itu bukan hanya di dalam ruang kelas, yang dibatasi oleh sekat dinding, sehingga siswa tidak bisa mengeksplorasi lebih mendalam materi yang disampaikan. Mungkin pendapat itu ada benarnya, tapi juga tidak bisa digeneralisir sepenuhnya benar.
Di sini, sekolah yang jauh dari pusat kota, tapi sangat dekat dengan lalu lintas kendaraan antar lintas sumatera, karena memang berada tepat di jalan lintas sumatera. Jika sekilas, apalagi tidak benar-benar fokus dengan apa yang diamati, maka tidak akan terlihat bahwa di samping jalan lintas tersebut ada sebuah sekolah berasrama, yang sudaj lumayan lama berdirinya. Walaupun belum bisa disebut tua. Kalau dibandingkan dengan tetangga di depannya, umurnya memang lumayan jauh lebih tua.
Di sepanjang pagar sekolah, memang sejak awal berdiri, sengaka ditanam pohon pelindung. Sehingga area sekolah di dalamnya terhindari daeri pencemaran langsung yang bersumber dari lalu-lalang kendaraan. Apalagi jika yang lewat adalah kendaraan besar, seperti Bus antar pulau, truk gandeng atau sejenisnya, serta kendaraan lainnya yang sangat ramai. Sehingga kehadiran pohon pelindung, yang sebagian besar adalah pohon Mahoni, menjadi tameng yang menyelamatkan lingkungan sekolah.
Kehadiran pimpinan yang baru, di area hijau ini dibangun dan dilengkapi dengan fasilitas tempat duduk dan meja permanen. Sehingga saat kunjungan orang tua siswa, maupun sekadar belajar di luar kelas, tempat ini sangat mengasyikkan. Bagi saya pribadi bukanlah hal baru. Karena sejak tahun 2003, sudah menjadi hal biasa. Bahkan pernah ada angkatan tertemtu (di sekolah ini, tahun masuk siswa, biasa disebut angkatan), pelaksanaan Ulangan Remedial tidak di dalam kelas, tapi menggunakan Gedung Olah Raga (GOR) sebagai tempatnya. Tentu saja dengan ketentuan tidak berpakaian sekolah pagi, tapi menggunakan pakaian olahraga lengkap.
Sayapun hadir sengan pakaian yang sama dan membawa alat olahraga selain kertas UH. Siswa bebas berekspresi saat mengerjakan soal. Ada yang sambil berbaring, selonjoran, atau bahkan sambil sejenak menghilangkan ketegangan, mereka mengambil bola basket, lalu melemparkannya ke jaring dari jarak tembak tiga point. Setelahnya baru mereka melanjutkan menjawab soal. Jika semua siswa sudah selesai, mereka tidak langsung membubarkan diri, tapi bersama saya bermain badminton, kebetulan ada empat lapangan yang bisa digunakan.
Jadi, intinya jika sekarang sedang diheboh-hebohkan dengan berbagai teori "baru," di sini sebenarnya bukanlah hal baru. Saat sebuah provinsi menggunakan jasa pihak militer dalam mendisiplinkan siswanya, di sini juga sejak awal pendirian sekolah, sudah melakukannya. Intinya, sekarang apapun teorinya, tinggal bagaimana kita bisa mengoptimalkannya dalam mendidik (bukan hanya mengajar), agar peserta didik tidak hanya bertambah pemahaman kelimuannya, tapi juga semakin baik karakternya. Itulah kelas terbuka hijau. Kelas yang menghadirkan ketenangan bagi semua.
***
~~ Mendalo Mas, 231025 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
