Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Aku (Bukan) yang Terbaik (Bagian 3)
Ilustrasi gambar: MetaAI

Aku (Bukan) yang Terbaik (Bagian 3)

Tantangan Hari ke-2125

#TantanganGurusiana-6

***

Menjadi guru itu panggilan jiwa, bukan karena susah mencari kerja, lalu bergabung dengan lembaga pendidikan, demi mendapatkan pekerjaan lebih gampang. Kalimat itu sering terdengar pada masa lalu. Seiring perjalanannya, siapa saja yang tidak menjiwai profesi ini, akan terlihat dengan sendirinya secara kasat mata.

Bagi yang menjiwai profesi ini penuh kesadaran, ketulusan dan karena banyaknya kemuliaan yang didapat, maka tidak peduli bagaimana penghasilan yang didapatkan. Melihat siswanya berhasil, rasa lelah dan gaji yang tidak seberapa, tidak pernah menjadikan dirinya seolah sosok yang tidak berguna. Orang lain diluar profesi guru, hanya bisa menilai sesuai dengan selera dan cara pandangnya masing-masing. Itulah kenapa, saat pertama kali menjejakkan kaki sebagai guru PPL, pihak sekolah tempat praktik menyebutkan, disinilah anda akan ditempa dan merasakan pahitnya perjuangan seorang guru.

Jangan membayangkan hal terindah terlebih dahulu, mengharapkan pujian atas keberhasilannya, lalu mendapat hadiah dan lain sebagainya. Tapi cukuplah membayangkan kebahagiaan dan kepuasan atas apa yang telah dicapai. Jangan berharap lebih dari orang lain. Karena kebahagiaan bagi seorang guru itu, manakala ia melihat kesuksesan siswa/anak didiknya tanpa berharap apapun, kecuali kepuasan bathin yang dirasa.

Menjadi guru itu tidak hanya kemampuan mengajar dan menyampaikan materi di depan kelas saja, lebih jauh dan lebih berat lagi saat menjadi pendidik. Selain mendidik siswanya, terlebih dahulu juga mendidik dirinya, memantaskan dirinya sebagai teladan. Bukan pula berarti tidak boleh marah. Bagaimana menempatkan diri, kapan harus tegas dan bahkan memarahi siswa, lalu dilain kesempatan menjadi teman anak-anak, bercerita banyak hal, menjadi tempat anak-anak berbagi rasa dan lain sebagainya.

Aku (guru) bukanlah yang terbaik, tapi panggilan jiwa tidak bisa dibohongi. Bukan tidak tergoda dengan penghasilan tinggi, tapi ada kewajiban moral dan kemampuan menahan diri. Karena kemuliaan seorang guru, tidak dinilai dari harta kekayaan, jabatan dan lainnya yang bersifat materi. Karena kemuliaan hati dan keluhuran budi, hanya bisa dirasa dan dinikmati oleh ketulusan hati siswa. Itulah kenapa setiap ketulusan yang diberikan, akan berbalas kebahagiaan, bukan dalam bentuk materi semata. (Bersambung)

***

~~ Mendalo Mas, 081125 ~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post