Aku (Bukan) yang Terbaik (Bagian 5)
Tantangan Hari ke-2133
#TantanganGurusiana-6
***
Sejenak kembali ke masa lalu. Entah sejak kapan tiba-tiba memilih menyintai profesi ini. Yang jelas, saat kuliahpun begitu ditanya oleh dosen, saya hanya menjawab sesuai hati nurani. Bahwa saya kuliah bukan karena ingin menjadi guru. Tapi karena tugas agama, yang menganjurkan saya harus terus belajar dan menuntut ilmu. Soal nanti akan menjadi apa, biarlah semuanya berjalan apa adanya. Begitulah jawaban saya saat di kelas, yang membuat dosen saya "marah."
Lalu ngapain kamu kuliah di IKIP jika tidak mau menjadi guru? Ujar dosen saya. Namun saya tetap menjawab dengan penuh hormat. Bukan tidak mau menjadi guru Buk. Saya hanya ingin menjadi orang yang selalu memberi manfaat untuk semua orang. Jika nanti ditakdirkan menjadi guru, ya harus tetap mengedepankan memberi manfaat. Jawaban tersebut membuat dosen menjadi paham. Bahwa intinya saya bukan tidak mau, tapi meluruskan niat, bahwa menjadi apapun kita, harus mengedepankan manfaat dan maslahat dengan dasar ketulusan.
Berangkat dari niat itu pula, akhirnya saat menunaikan tugas sebagai Mahasiswa PPL di SMAN 4 Kota Padang, yang tepatnya berada di kawasan Lubuk Begalung (LuBeg). Disinilah sepertinya kisah menyintai profesi guru dimulai. Saat menunaikan tugas sebagai guru (tepatnya calon guru), berinteraksi dengan siswa di kelas dan di luar kelas, mendengarkan keluh kesah dan harapannya kedepan. Apalagi saat masuk ke kelas unggulan. Disana suasana kelas berbeda jauh dengan kelas reguler. Sampai akhirnya teman minta "tukaran" kelas mengajar, karena khawatir nantinya "dikerjain" oleh siswa pintar.
Saya hanya mencoba menetralisir kondisi kelas, dikhawatirkan akan terjadi upaya siswa mempermalukan guru PPL. Hadir dengan semangat yang sama, bahwa guru PPL bukan main-main, tapi berusaha menjadi guru yang sebenarnya, walaupun statusnya masih tahapan belajar. Ternyata setelah masuk di ruang kelas unggulan, tidak semenakutkan yang diceritakan. Tergantung bagaimana kita menempatkan diri dengan siswa.
Aku memang bukan yang terbaik. Tapi setiap usaha yang dilakukan, hanya untuk keberhasilan siswa. Bukan hanya pintar, tapi memiliki karakter yang kuat. Itulah yang saya lakukan saat di kelas unggulan. Walaupun hadir sebagai guru PPL, bukan berarti harus menyerah kalah dengan perilaku buruk siswa. Dengan bahasa yang sederhana, menyadarkan mereka. Bahwa kepintaran jika digunakan untuk hal yang tidak baik, apalagi "ngerjain" guru PPL, tidak akan menambah dirinya menjadi hebat, justru memperlihatkan bahwa dirinya ternyata tidak jauh lebih baik dari kelas lainnya yang biasa-biasa saja. (Bersambung)
***
~~ Mendalo Mas, 161125 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
