Aku (Bukan) yang Terbaik (Bagian 7)
Tantangan Hari ke-2137
#TantanganGurusiana-6
***
Setelah menuntaskan kuliah, tugas paling menantang adalah mencari pekerjaan. Bagi yang beruntung (bukan karena ada orang dalam dan koneksi), tapi lebih pada kekurangan tenaga pendidik, maka sangat banyak para alumni perguruan tinggi kependidikan seperti IKIP dan STKIP langsung bekerja. Walaupun dengan status sebagai guru honorer.
Dengan status baru tersebut, jangan dibayangkan hal indah dengan pekerjaan yang luar biasa santainya. Yang ada adalah kebalikannya. Tugas menjadi guru itu tidak mudah. Tugas yang menumpuk di atas meja ditambah lagi dengan gaji honorer yang tidak seberapa. Jangankan untuk menabung apalagi menraktir teman-teman, cukup untuk ongkos pulang pergi dari rumah ke sekolah, itu sudah luar biasa.
Pernah berada pada posisi tersebut, mengajarkan bagaimana sikap saling menghargai antar sesama rekan pendidik. Tidak membedakan guru PNS dan honorer. Karena tugas yang diemban tetap sama. Bagaimana anak didik memiliki karakter baik, ditopang pula kemampuan akademik yang bagus.
Dengan demikian, tidak ada perbedaan bidang tugas yang dilakukan oleh keduanya. Perbedaan yang pasti hanya pada gajinya saja. PNS dibayarkan oleh Pemerintah, sedangkan honorer dibayar melalui sumbangan orang tua siswa yang biasa disebut BP3.
Selama menunaikan tugas sebagai guru honorer, bukan pula mendapatkan sambutan meriah di luar kelas. Jika di dalam kelas, siswa merasa terancam dengan nilai rapor jika bermasalah dengan materi pelajaran, bukan pula karena ancaman guru, tapi oleh dirinya sendiri. Mau suka atau tidak dengan guru honorer, mereka tetap harus berada di dalam kelas.
Namun akan berubah manakala saat berada di luar kelas. Hubungannya dengan sang guru tidak lagi terikat dengan guru dan siswa, tapi lebih sebagai teman berbagi kisah dan masalah. Padahal bukan guru Bimbingan Konseling. Siswa merasa nyaman bercerita dan berbagi banyak kisah dengan sang guru.
Mendengar kisah mereka, lalu mencoba merangkum dan mengambil kisah yang mirip dengan apa yang dulu dirasakan oleh sang guru honorer saat sebagai siswa. Menjadi sosok yang ideal dan menjunjung tinggi integritas itu tidak mudah. Namun bukan pula menyerah dengan keadaan. Menggadaikan diri dan menyerah kalah dengan kondisi yang sedang terjadi, adalah sebuah pengkhianatan.
Jadi tetaplah berdiri kokoh menjaga integritas. Berangkat dari sanalah, akhirnya sang guru honorer tersebut bisa bangkit. Bukan lagi tentang uang yang tidak seberapa. Tapi bagaimana bisa bertahan menjadi teman dan sahabat bagi siswa adalah hal yang luar biasa. (Bersambung)
***
~~ Mendalo Mas, 201125 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
