Aku (Bukan) yang Terbaik (Bagian 9)
Tantangan Hari ke-2139
#TantanganGurusiana-6
***
Menilik semakin banyak guru yang menjadi korban, mulai dari intimidasi, kriminalisasi, bahkan ada yang dilarikan ke rumah sakit karena menjadi korban pengeroyokan pihak tertentu, karena upaya mendidik yang dilakukan oleh guru, serta yang paling menyedihkan ada yang dipaksa masuk "Hotel Prodeo) tanpa tahu apa kesalahan yang telah diperbuat, serta ada pula yang diberhentikan mulai dari diberhentikan dengan hormat, ada pula yang diberhentikan tidak dengan hormat.
Pada masa lalu, dunia sosial media belum ada seperti sekarang. Walaupun sang guru tidak dalam posisi bersalah, manakala berhadapan dengan mereka yang punya uang dan punya dekingan, maka jangan harap sang guru akan menang dalam "pertempuran." Mau menyewa pengacara? Uang darimana? Untuk biaya hidup sehari-hari saja dari gaji bulanan tidak cukup. Belum lagi pertengahan bulan, sudah banyak guru yang "sesak napas" karena sudah tidak ada lagi onggokan uang untuk membayar biaya sekolah anak.
Pernah saat awal bergabung di sebuah sekolah negeri, saat penempatan pertama sebagai guru CPNS, langsung mendapat wejangan dari guru senior.
"Jangan terlalu dekat dengan siswa di sekolah ini. Cukuplah datang, mengajar, selesai lalu pulang," ujar guru senior.
Tentu saja saya pribadi kaget. Karena sudah menjadi kebiasaan saya, selalu dengan siswa. Tidak peduli asal daerahnya dari mana, agama, suku dan jabatan orang tuanya. Semua mendapatkam perlakuan yang sama. Jadi siswa yang orang tuanya pejabat tinggi sekalipun, tidak akan mendapatkan perlakuan spesial, apalagi pembelaan saat melanggar aturan. Semua mendapatkam perlakuan yang sama. Sehingga anak menjadi sadar, bahwa saat disekolah bersama saya, jangan pernah menaruh harapan akan diberikan perhatian khusus.
Terkait dengan capaian nilai akademikpun sama. Tidak ada istilah nilai kasihan, lalu muncul angka dramatis didalam rapornya. Walaupun sejak awal pertemuan, saya sudah mengingatkan kepada semua siswa. Tidak perlu khawatir terkait nilai. Cukup perbaiki karakter akhlak mulianya. Rubah dan perbaiki menjadi lebih baik. Bagi yang sudah baik, tingkatkan dan pertahankan. Lalu bagaimana dengan nilia khusus mata pelajaran yang saya ajarkan? Semua anak pasti mendapatkan nilai batas aman alias sesuai KKM.
Bagi anak yang ingin meraih nilai lebih baik, bukan batas KKM, maka tidak ada jalan kecuali belajar dengan tekun, serius saat mengikuti pelajaran, rajin pula bertanya baik kepada guru maupun dengan teman sejawat yang lebih paham. Langkah ini sudah sejak awal menjadi guru sudah diterapkan. Kecuali untuk kasus tertentu.
Saat masih kurikulum 99. Karena belum ada persayaratan nilai minimal KKM, apalagi bisa diperoleh melalui program remedial. Maka "bergentayangan" nilai rendah di dalam rapor. Karen untuk urusan kenaikan kelas tidak ditentukan dari capaian akademik saja, tapi juga sangat ditentukan oleh nilai sikap, kepribadian dan budi pekerti. (Bersambung)
***
~~ Mendalo Mas, 221125 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
