Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Aku (Bukan) yang Terbaik (Edisi Terakhir)
Ilustrasi gambar: Grok

Aku (Bukan) yang Terbaik (Edisi Terakhir)

Tantangan Hari ke-2140

#TantanganGurusiana-6

***

Pernahkah merasakan beratnya perjuangan bersama dengan siswa binaan, lalu hasilnya tidak dianggap. Mungkin bagi sebagian orang akan merasakan sakit hati yang luar biasa, tapi tidak dengan sosok yang satu ini. Karena memang sejak awal bergabung dengan profesi yang satu ini, sudah menyiapkan semuanya dengan tulus ikhlas. Bukan hanya satu kejadian, tapi berbagai kejadian yang hadir menimpa dirinya. Tapi ia tetap berdiri kokoh memegang prinsip, bahwa apa yang ia lakukan, bukan untuk mendapatkan simpati, apalagi apresiasi.

Bertolak dari banyaknya kejadian yang menimpa dirinya, ternyata mengajarkan satu hal yang sangat bisa jadi tidak semua guru mampu menjalaninya. Ketulusan dan keikhlasan, serta keinginan untuk selalu membersamai proses berhasilnya siswa, membuat dirinya semakin kuat menghadapi semua masalah yang terjadi. Dikucilkan dan atau sering dijadikan tempat menimpa semua kesalahan, adalah hal biasa bagi dirinya. Karena ia tahu, berjuang bersama siswa meraih mimpinya itu tidak mudah.

Ada banyak orang (guru, red), yang lebih suka mengambil japan pintas meraih sukses siswanya. Bukan melakukan pembinaan, tapi "menculik" siswa yang sudah hebat tanpa harus berlelah ria menanganinya. Lalu kesuksesan yang dicapai oleh siswa, tinggal diklaim atas kehebatan dirinya membimbing siswa. Kalau boleh siswa melakukan perlawanan, sangat bisa jadi mereka akan membongkar cara yang kurang elok yang dilakukan oleh guru pembinanya.

Sosok aneh tersebut memang bukan yang terbaik. Tapi dari pojok sekolah, di rumah dinas yang ditempatinya, hampir tidak pernah sepi dari kunjungan siswa yang telah meyakini dirinya untuk tetap berada di garis keras berjuang. Bukan yang ujug-ujug jadi dan berhasil. Mereka yang kadang harus berurai air mata, karena perjuangan kerasnya tidak serta merta mendapatkan dukungan dari guru-gurunya. Tidak sedikit yang hampir oleng dan terjatuh, lalu memilih mundur, jika tidak mendapatkan pendekatan dan penanganan yang baik layaknya seorang ayah kepada anaknya.

Dia memang bukan yang terbaik di sekolahnya. Kehadirannya bersama anak-anak, lebih tepat sebagai seorang orang tua terhadap anaknya, bukan guru dan siswa. Model pendekatan yang seperti ini, mampu mendalami dan memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan anak.

Tidak ada satupun persoalan yang disembunyikan oleh siswa kepada dirinya. Namanya juga guru aneh. Guru yang sangat susah dipahami pribadinya. Guru yang menurut anak, sangat jarang mendapatkan pujian dan penghargaan atas keberhasilanyya membawa anak sebagai pemenang, nasional dan bahkan internasional.

Sedihkah guri tersebut? Tentu saja tidak. Karena ia menyadari dengan sepenuh hati. Tujuan utamanya bukan ingin mendapatkan perhatian dan penghargaan. Semuanya dilakukan, agar siswa binaannya mampu mendapatkan posisi terbaik saat melanjutkan studi di perguruan tinggi. Begitu pula saat mereka tamat kuliah, dunia kerja sudah menanti dengan posisi yang terbaik pula. Karena semuanya mendapatkan didikan keras dan aturan yang ketat. Agar apa yang mereka rasakan saat dibina, akan dirasakan manfaatnya saat kuliah dan ditempat kerja.

***

~~ Mendalo Mas, 231125 ~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post