Belajar dari Tanaman
Tantangan Hari ke-2120
#TantanganGurusiana-6
***
Minggu, 021125. Setelah sejenak merapikan semua titik di rumah, mulai di kamar, ruang tamu, ruang tengah dan dapur, lalu dilanjutkan dengan area sekitar pekarangan. Semuanya dalam kondisi bersih. Apalagi taman mungil di depan rumah sudah disiram secara merata saat pulang dari shalat Subuh di Masjid. Mengingat suhu udara yang lumayan tinggi, bukan hanya membuat kembang dan tanaman lainnya menjadi layu, yang punya rumah saja bisa dibuat redup oleh suhu tinggi tersebut.
Kegiatan berikutnya adalah menuju kebun. Selama dalam berkegiatan di kebun, bukan hanya menenangkan pikiran, juga menyehatkan badan. Karena keringat yang dikeluarkan mampu mengolah energi yang tersimpan dalam tubuh. Pegal dan capek? Tentu saja iya. Tapi selama dilakukan dengan niat yang baik, serta bisa mengambil banyak pelajaran dari setiap tumbuhkembangnya tanaman.
Saya melihat sejenak pohon manggis yang terlindungi oleh pohon kayu manis (Casiavera), lalu membandingkannya dengan tanaman sejenis. Ditanam pada waktu yang sama, tapi berbeda perlakuan. Pohon manggis lainnya berada di area terbuka. Kena cahaya matahari yang banyak saat musim panas, mendapatkan curah hujan yang melimpah saat musim hujan. Tapi pertumbuhannya mampu mengalahkan temannya yang bersembunyi di bawah pohon kayu manis.
Apa pelajaran yang dapat diambil oleh kita yang katanya kaum yang berpikir. Apabila ada anak yang selalu dimanja dan mendapatkan perlindungan dari kedua orang tuanya, atas apapun yang dilakukan oleh anak-anaknya, biasanya akan lambat berkembang dan mandiri. Karena selalu bergantung pada bantuan dan pertolongan orang tuanya. Begitu pula dengan perilakunya. Baik atau buruk, tidak pernah mendapatkan bantahan maupun teguran, seperti bagaimana panas dan hujan menyirami pohon yang berada di alam terbuka, maka seperti itu pula yang akan terjadi pada anak yang dimanja.
Belajar dari alam, membuat kita semakin menyadari artinya kemandirian. Belajar menghargai sekecil apapun perlakuan yang diberikan kepada kita. Dimarahi dan ditegur atas kesalahan, bukanlah sebuah kebencian. Tapi melatih diri untuk menjadi tahu dan bisa membedakan mana baik dan buruk. Tidak demikian dengan pohon yang terlindungi oleh induknya. Selalu dalam kondisi lemah dan tak berdaya. Begitu musim panas tiba, padahal berada di bawah pohon induk, tetap terlihat lemah dan tak berdaya.
Sejenak dari kebun, ternyata bisa melatih kepekaan terhadap diri sendiri. Belajar memaknai sekecil apapun dalam hidup. Karena tidak semua kebaikan didapatkan karena niat yang baik. Tapi ketulusan memberi, pasti akan mendapatkan balasan yang jauh lebih baik. Berbeda halnya dengan orang yang memberi dan mengharap kembali.
Jika mengandaikannya dengan ilmu hitung Matematika, jika memberi satu dengan niat berharap balasan dua, maka 1/2 sama dengan setengahnya. Apalagi jika memberi satu berharap lebih banyak, misalnya saja empat. Maka 1/4 menjadi seperempatnya. Maka mulailah belajar memberi tanpa harap kembali, ibarat kata 1/0, maka balasannya adalah tak terhingga. Selamat mencoba.
***
~~ Mendalo Mas, 031125 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
