(Bukan) Guru Biasa
Tantangan Hari ke-2142
#TantanganGurusiana-6
***
Hari ini, saya hanya ingin melihat dari jauh, tidak berani terlalu dekat, walaupun tetap hadir dalam perayaan hari istimewa. Hari dimana sosok guru dielu-elukan, nyanyian, pujian tentang guru membumbung tinggi ke atas langit. Menggetarkan dan bahkan mampu sejenak membuat kabut tipis yang berarak menjadi terhenti.
Kenapa seperti itu? Bayangkan saja, setiap tanggal 25 November, dirayakan dan dibuat semeriah mungkin. Saking meriahnya, sampai banyak yang lupa (entah memang sengaja dibuat menjadi lupa), bahwa masih banyak rekan guru yang terpinggirkan, dikriminalisasi, bahkan tidak jarang menjadi korban kekerasan dan pengeroyokan oleh kelompok tertentu yang tidak puas serta tidak bisa menerima perlakuan guru yang tegas dan disiplin terhadap aturan.
Aku (Bukan) guru biasa. Tepatnya hanya guru biasa-biasa saja. Guru yang hanya terlihat sibuk tak menentu. Guru yang kadang hadir hanya sekadar mengisi daftar hadir online. Itupun sering terlambat lalu pulangnya cepat. Kalaupun ada yang berani mencoba menegur, maka bersiaplah nanti akan mendapatkan perlawanan. Karena merasa dikelilingi oleh pejabat dan orang yang bisa memgamankan dirinya dari tindakan apapun.
Momen perayaan hari guru, saya mencoba mengambil posisi berdiri menjauh dari keramaian. Agar bisa melihat kekurangan diri yang hanya guru biasa-biasa saja. Guru yang hadir di kelaspun, karena sekadar menuntaskan tugas, itupun lebih sering keluar masuk kelas, lalu sejenak duduk menunggu pergantian jam berikutnya. Akankah diri ini yang bukanlah guru biasa, guru biasa-biasa saja, yang sampai kapanpun tetaplah guru biasa. Tapi terus mencoba mengambil jarak dan sikap yang berbeda. Karena memang guru yang bukan apa-apa.
(Bukan) guru biasa, hanya karena menang tidak ada yang bisa dibanggakan pada diri ini. Pintar? Juga bukan. Karena sudah dikalahkan oleh AI, yang bisa menuntaskan apapun yang ditanyakan kepada siswa. Malas menulis dan membaca? Mereka bisa siasati dengan menitipkan catatan kepada temannya, lalu difotocopy, semua persoalan selesai dengan mudah.
Hari ini, dibawah temaram kabut pagi, ingin aku berteriak, tapi tertahan oleh kemampuan diri yang tidak punya arti. Siapa yang akan peduli dengan guru biasa-biasa saja seperti diri ini. Janganlah pernah bermimpi, diri yang tidak semua orang peduli, akan berada di depan penuh puja puji. Cukuplah bekerja sepenuh hati, tanpa drama seperti mereka yang guru luar biasa. Bukan seperti dirimu, yang hanya guru biasa-biasa saja. Atau jangan-jangan sudah merasa (Bukan) Guru Biasa. Entahlah.
Semoga dengan perayaan hari guru, semua guru tidak melipakan fungsi utamanya, menjadi contoh teladan bagi semua anak didiknya. Bukan yang berceloteh yang tidak sesuai dengan fakta. Kecuali diri ini yang hanya guru biasa-biasa saja. Yang sedang belajar dan mencoba untuk peduli.
***
~~ Mendalo Mas, 251125 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
