Dadakan itu Seru
Tantangan Hari ke-2131
#TantanganGurusiana-6
***
Rabu kemarin, tanggal 12 November 2025, menjadi hari spesial. Karena memang selain bertepatan dengan hari lahir ananda tercinta, juga bersamaan dengan peringatan hari Ayah. Awalnya kita berencana mau menjemput kemenakan ke sekolahnya (Pondok), tapi sebelumnya harus ke kota Jambi terlebih dahulu.
Seiring rencana tersebut, juga ada niat untuk menjenguk anak Kepala Sekolah yang sedang dirawat di RS DKT. Jadi ibarat kata, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampau. Walaupun saat sampai di lampu merah Simpang Rimbo, sudah terlihat antrian panjang kendaraan, akhirnya langsung putar arah.
Awalnya sudah membayangkan jalanan aman dan pancar, terpaksa berbalik arah, lalu bergerak menuju Perumahan Koto Baru Indah, lanjut dengan rute jalanan ala-ala, dengan lubang menghiasi sepanjanh perjalanan,sa.lai akhirnya kendaraan memasuki kawasan elit, Komplek Perimahan Citra Raya City.
Melalui rute selanjutnya, Jalan Lintas Simpang Sungai Duren, lanjut menuju Pijoan - Pemayung. Sang anak mertua masih tersambung dengan anak gadisnya yang sedang berulang tahun. Tidak ada dalam pikirannya, bahwa Ayah dan Ibuknya sedang dalam perjalanan. Karena saat hubungan telpon kembali tersambung, anak gadis agak sedikit curiga, kok ada bunyi klakson kendaraan. Ibunya dengan santai menjawab, bahwa lagi nyari makan malam bersama Ayah. Karena di rumah hanya berdua saja. Tentu saja si anak percaya.
Setelah mobil diparkir di depan kantor perugas keamanan pondok, bersamaan dengan usainya jam telpon, karena sesyai dengan durasi waktu yang sudah ditetapkan oleh pihak pondok. Lalu sang Ibu mengubungi Ustadzah, bahwa ada titipan kue untuk ananda Ghina yang sedang berulang tahun. Sesuai kesepakatan, agar kehadiran Ibunya mengantarkan kue tidak diketahui, maka mengantarkan kue hanya sampai batas pintu gerbang samping kelas MA.
Setelah tugas si Ibu selesai, belum lagi kendaraan samlai di jalan lintas tengah Sumatera, melalui pesan gawai Ibunya,
Usaikah acara dadakan? Tentu saja belum. Setelah pulang dari Pondok Pesantren Ash Shiddiiqi, yang berlokasi di Kecamatan Pemayung, Jembatan Mas, Kabupaten Batanghari, saya tidak langsung pulang ke rumah. Tapi bergerak menuju lokasi perkemahan LSHRPP di Buper UIN STS Jambi.
Bukan ingin mengikuti acara Malam Api Unggun, hanya sekadar mampir ke tenda putri. Menitipkan paket makanan ringan untuk mereka semuanya. Karena tenda putra pasti dalam kondisi kosong. Semua peserta tumpah ruah di lapangan, di depan panggung utama. Padahal api unggunya sudah hampir habis. Tapi tidak dengan peserta. Karena sudah berganti dengan lampu tembak aneka warna dari atas pentas.
Ternyata, dadakan itu seru. Seserunya mereka yang dikagetkan dengan kehadiran sosok guru "paling kejam" dan "paling jahat" terhadap semua siswa pelanggar disiplin sekolah. Tidak masalah dengan label tersebut. Malah saya berusaha mempertahankan gelar itu sampai nanti selesai melaksanakan tugas sebagai guru.
Karena mendidik itu berat. Jika hanya menyampaikan materi pelajaran, anak-anak bisa belajar dari berbagai sumber, yang sangat bisa jadi jauh lebih hebat dari sang guru. Tapi soal mendidik? Kadang orang tua kandungnya sendiri sudah menyerah atas kelakuan anaknya yang "kurang baik" tersebut.
***
~~ Mendalo Mas, 141125 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
