Masih tentang Tanaman
Tantangan Hari ke-2121
#TantanganGurusiana-6
***
Setelah berlama-lama di kebun, mengamati dari dekat setiap tumbuhkembangnya berbagai tanaman. Mungkin tidak banyak yang berpikir sampai jauh (tapi bukan jauhnya seperti iklan yang mengalir sampai jauh). Pernah terpikirkan oleh kita, proses pemupukan tanaman. Mulai dari awal ditanam, biasanya sangat dianjurkan memakai pupuk alami alias pupuk kandang. Bandingkan dengan seorang bayi. Juga demikian. Harus diberi makan dan minum yang alami dari Emaknya.
Itu menandakan bahwa usia yang masih sangat muda, sangat tidak diizinkan memgonsumsi bahan kimia yang berbahaya, ataupun tidak boleh menggunakan bahan buatan. Demikian juga dengan anakan tanaman yang baru ditanam. Sangat tidak dianjurkan langsung dipupuk dengan pupuk kimia. Ini saya lakukan hampir pada semua jenis tanaman. Apalagi bibit unggul Durian Montong. Usia tanam 2 tahun sampai 2,5 tahun, masih mengonsumsi pupuk kandang. Jangan ditanya pertumbuhannya seperti apa. Sangat baik dan sehat untuk ukuran dan jenis tanaman yang sama, tapi menggunakan pupuk kimia.
Setelah usianya makin besar, barulah dikenalkan makanan tambahan, seperti susu kedelai, etawa dan lain sebagainya yang cocok untuk bayi. Demikian juga dengan tanaman. Itupun dengan syarat dan ketentuan yang ketat. Memberikan pupuk, tidak boleh terlalu dekat dari batang. Pupuk diberikan dengan menggali lubang berbentuk lingkaran, dengan batas terdekatnya adalah tajuk (pucuk daun) yang paling jauh dari batang.
Mau tahu tujuannya? Agar merangsang akar untuk tumbuh lebih kuat dan membesar, karena harus mencari sumber pupuk yang jauh dari pokok batang. Lalu perumpamaan yang sama kepada anak manusia. Mulai pertumbuhannya, sudah diajarkan mengambil makanan sendiri, diajarkan bertanggung jawab dengan dirinya sendiri.
Jika pelajaran dari tanaman ini, benar-benar kita terapkan dalam pertumbuhan anak kita, maka tidak mungkin mereka terus dimanja. Sehingga sudah dewasa tapi belum bisa berpikir maju dan mandiri. Kenapa demikian? Karena sang induknya (kedua orang tuanya) selalu memanjakan anaknya. Padahal, tanaman saja, untuk mendapatkan pupuk yang diberikan oleh petani, diletakkan pada jarak yang jauh dari akarnya. Tujuannya untuk merangsang pertumbuhan akarnya dan menjadi lebih kuat pohonnya.
Semoga perjalanan sederhana dari kebun tadi, mengajarkan kita untuk lebih bijak terhadap tumbuhkembang anak-anak di rumah. Marah bukan berarti benci dan tidak sayang kepada anak. Tapi mengajarkan dan menyadarkannya bahwa dalam hidup itu ada yang boleh dan tidak boleh. Karena melanggar aturan, maka konsekuensinya adalah dimarahi dan ditegur. Bagaimana kedepannya, jika semua keinginannya selalu dituruti, maka yakinlah dia akan menjadi lemah dan selalu bergantung pada kedua orang tuanya.
Berkebun itu tidak hanya bercerita tentang bagaimana menanam, merawat dan menjaga dari serangan hama, lalu menunggu waktunya memetik hasil. Tapi juga tentang banyaknya hikmah yang bisa menjadi pengingat bagi kita semua. Bahwa tidak ada yang instan dalam hidup. Semuanya berproses dan harus berjalan sesuai aturan. Jangan mengambil contoh pada yang salah.
Melanggar aturan untuk mendapatkan sesuatu. Lalu menyingkirkan mereka yang lurus. Yang penting keinginannya tercapai. Iru senua bukanlah hal baik dan tidak akan menghasilkan yang baik, kecuali perlahan menghancurkan semua dan menggantikannya dengan sesuatu yang buruk.
***
~~ Mendalo Mas, 041125 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
