Belajar dari Angka Nol (Bagian 10)
Tantangan Hari ke-2166
#TantanganGurusiana-6
***
Kok Bapak tidak langsung melapor, jika belum mendapatkan rumah dinas? Itulah pertanyaan pertama yang dilayangkan kepada saya. Beliau adalah orang yang paling bertanggung jawab terkait semua rumah dinas dan fasilitasnya. Saya hanya membalas dengan kalimat ringan dan sangat sederhana. Mohon maaf Pak. Saya tidak tahu ada rumah dinas untuk saya. Saya juga tidak berani menanyakannya, apalagi sebagai guru baru, tidak ada satu orangpun yang menyampaikan kepada saya, apa yang harus saya lakukan.
Jawaban saya yang ringan tersebut, ternyata membuat seisi ruangan terdiam. Karena memang saya tidak dalam posisi bersalah. Sebagai orang baru, memang tidak ada satu orangpun yang menyampaikan kepada saya, apa saja hak dan kewajiban sebagai seorang guru di sekolah berasrama. Hampir satu bulan, saya harus bolak balik dari rumah kontrakan yang berada di kawasan Telanaipura, Jambi.
Seandainya ada jadwal piket malam, saya memilih beristirahat di Masjid, sembari menunggu masuk waktu magrib dan isya. Setelahnya, baru bergerak menuju ruang pamong dan memantau siswa yang sedang belajar malam di dalam kelas. Tugas ini dilaksanakan sampai jam menunjukkan angka 21.00. Kadang belum bisa langsung pulang ke Jambi, karena ada siswa yang masih mengajak diskusi, baik terkait materi pelajaran maupun hal lain, terutama rencana melanjutkan ke perguruan tinggi.
Mungkin, dengan kondisi yang tidak pernah meminta, saya tetap melaksanakan tugas seperti biasa. Pagi, jam 06.30 saya sudah berada di ruang guru. Jadi jangan dibayangkan saya akan terlambat datang. Tidak ada rumusnya terlambat datang ke sekolah. Karena di sekolah sebelumnya, saya selalu datang lebih awal dan pulang paling akhir. Sampai Abang penjaga sekolah bertanya, "Siapa sih yang Kepala sekolah di sekolah ini," ujar beliau dalam suasana bercanda.
Karena posisi seperti itu, biasanya menjadi tugas Kepala sekolah. Sementara setiap hari, saya selalu melakukannya. Itu semua bukan dalam rangka "Cari Muka" kepada atasan, tapi sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Mau dilihat atau tidak, mau atasan tahu atau tidak, sedikitpun tidak pernah menjadi perhatian dan pemikiran saya. Prinsipnya sederhana. Jika kita ingin berbicara tentang disiplin kepada siswa, maka kita harus menjadi contohnya terlebih dahulu. Guru itu teladan, bukan hanya bisa memberi contoh tapi tidak bisa menjadi contoh. (Bersambung)
***
~~ Mendalo Mas, 191225 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
