Belajar dari Angka Nol (Bagian 14)
Tantangan Hari ke-2169
#TantanganGurusiana-6
***
Ada yang unik dan menarik saat berada di rumah dinas. Biasanya keunikan itu muncul menjelang perayaan Agustusan. Ada lomba kebersihan lingkungan perumahan. Ada petugas yang ditunjuk sebagai tim penilainya. Siapa orangnya, saya pribadi tidak terlalu ambil pusing. Karena kebersihan rumah dinas, baik di dalam maupun di luar rumah, menjadi tugas yang melekat kepada para penghuninya. Bersih dan nyaman serta indah pekarangannya, bukan karena ingin menang lomba.
Berhubung masa penilaian lomba, saya dan istri memilih untuk tidak terlalu menyolok dalam menjaga kebersihan rumah. Bukan apa-apa, karena ada beberapa rumah terlihat menyewa petugas kebersihan sekolah untuk membersihkan pekarangan rumah. Bahkan ada yang tiba-tiba diteras dan pekarangan rumahnya muncul pot bunga yang sudah terisi berbagai jenis bunga. Bagus sih, tapi saya dan istri memilih untuk tidak berjibaku membersihkan pekarangan rumah dan juga interior di dalamnya.
Anak-anak yang menjadi pelanggan setia bermain di rumah juga melihat sesuatu yang aneh. Karena mereka hampir setiap hari melihat saya dan istri selalu ada di depan rumah. Biasanya pagi sebelum saya berangkat ke sekolah, masih ikut membantu istri merapikan tanaman di taman, begitu juga dibagian belakang rumah. Begitu masuk bulan Agustus, terutama menjelang perayaan Agustusan, saya dan istri jarang terlihat "baberes" dipekarangan rumah. Selain memang tidak kotor, hanya dedaunan yang rontok dari pohonnya, juga masih tetap terjaga kebersihannya.
Karena sudah sering terlihat, akhirnya anak-anak bertanya. "Kok Bapak dan Ibuk tidak ikut-ikutan heboh mengikuti lomba kebersihan lingkungan, seperti rumah-rumah pamong yang lainnya," ujar siswa. Saya hanya membalas dengan senyuman, sembari menyampaikan, kebersihan pekarangan itu sudah menjadi bagian dari tugas rutin sehari-hari. Begitu juga menjaga taman di pekarangan. Itu semua dilakukan bukan karena ada lomba, karena memang sudah terbiasa melakukannya.
Sebenarnya ada nilai yang saya titipkan kepada anak-anak. Mau ada lomba atau tidak, maka tugas menjaga kebersihan lingkungan adalah tanggung jawab kita semuanya. Jika hanya karena ingin mengikuti lomba, bayangkan saja biaya yang harus dikeluarkan, misalnya dadakan beli kembang, membayar upah tukang bersih taman, dan lain sebagainya. Manakala menjaga kebersihan pekarangan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, maka sampai kapanpun akan tetap terjaga kebersihannya.
Dari titik inilah, kita memulai hal sederhana kepada siswa. Bagaimana bersikap dan menempatkan diri saat menemukan kejadian seperti kisah di atas. Berpura-pura bersih, berarti kebersihan itu bukan menjadi bagian dari kebiasaan hidup. Begitu tidak ada lomba, maka pasti akan terlihat bentuk aslinya. Kotor, tidak terawat dan akhirnya kembang yang mahal perlahan mati. Padahal hadiah yang didapatkan tidak lebih banyak dari modal yang dikeluarkan. Apabila kita tampil apa adanya, maka kebersihan pekarangannya juga akan selalu terjaga. (Bersambung)
***
~~ Mendalo Mas, 231225 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
