Belajar dari Angka Nol (Bagian 15)
Tantangan Hari ke-2170
#TantanganGurusiana-6
***
Tahun pertama tinggal di rumah dinas, berada di dalam komplek sekolah berasrama, banyak sedikitnya ada hal baru yang dirasakan. Yang jelas, terisolir dari dunia luar. Tidak banyak masyarakat luar yang dikenal, kalaupun ada hanya orang warung yang menjadi tempat belanja keperluan sehari-hari. Namun tidak mengurangi dan membatasi diri dari kehidupan di luar asrama. Berbelanja di warungpun, bisa menjadi ajang silaturrahim dengan warga.
Setelah sekian tahun, barulah komplek perumahan resmi menjadi satu RT tersendiri, namun bergabung dengan satu sekolah berasrama lainnya yang saling bertetanggaan. Sekolah yang bernaung dibawah asuhan Kementerian Agama. Tentu saja, MA Cendekia Jambi. Yang sekarang sudah berganti nama menjadi MAN IC Jambi. Dua sekolah berasrama ini digabung menjadi satu Rukun Tetangga (RT).
Kembali ke suasana rumah dinas, yang selalu menjadi Base Camp anak-anak yang khusus tergabung dalam tim Olimpiade Sains di sekolah. Bukan berarti diluar kelompok tersebut tidak boleh berkunjung. Malah mereka secara sukarela hadir dan datang, kadang juga bersama-sama dengan anak-anak Olimpiade. Dari berbagai kisah mereka itu pula, maka saya usulkan ke pihak sekolah. Saat pulang dari libur lebaran, maka malam senin yang seharusnya masuk kelas, diganti dengan kunjungan silaturrahim ke rumah pamong. Baik sebagai wali kelas, maupun atas nama pamong secara umum.
Ide ini juga tidak lepas dari masukan anak-anak. Mereka yang baru saja pulang dari libur lebaran, ingin merasakan suasana baru. Berkumpul di rumah wali kelasnya. Hadir sebagai seorang anak kepada orang tuanya. Anehnya, rumah Blok C7 ini menjadi incaran dan rebutan anak-anak. Padahal, saya bukanlah wali kelasnya. Ada yang akhirnya membuat cara sendiri. Misalnya alumni wali kelas 10 dan kelas 11. Karena merasa pernah menjadi wali kelas mereka saat di kelas tersebut, maka kunjungan pertama kali adalah rumah dinas Blok C7.
Karena sebelum mereka datang, saya dan istri sudah menyiapkan hidangan kue spesial buatan sendiri. Jika banyak pamong, kue yang disediaka adalah kue "tunjuk" alias beli di toko dengan menunjuk jenis-jenis kuenya. Sementara di rumah, kue yang disajikan kepada mereka memang asli buatan sendiri. Karena saya sendiri adalah ketua tim dalam urusan membuat kue lebaran. Padahal, setelah kue itu jadi dan dimasukkan kedalam tempatnya masing-masing, saya tidak ikut serta menikmatinya. Hanya senang dan suka menyediakannya untuk menyambut kehadiran tamu ke rumah. (Bersambung)
***
~~ Mendalo Mas, 241225 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
