Belajar dari Angka Nol (Bagian 19)
Tantangan Hari ke-2175
#TantanganGurusiana-6
***
Berbekallah dengan yang baik. Mengambil tuah dari yang menang. Begitulah pesan bijak orang tua zaman dahulu, sampai kini masih sangat relefan diambil sebagai pelajaran. Bukan apa-apa, ditengah kuatnya hujatan dan rasa kebencian ditebarkan, maka menghadapinya harus dengan meluaskan hati melapangkan dada, seperti itulah pesan berikutnya dari orang tua zaman dahulu. Melengkapi makin kuatnya hati melihat dan merasakan apa yang sering dialami.
Tetap bertahan mendampingi siswa yang tergabung dalam tim Olimpiade Sains, bukanlah hal mudah. Walaupun sempat ingin berhenti dan mengalah (bukan berarti menyerah kalah), tapi ingin sejenak mengendurkan saraf-saraf yang mungkin sudah semakin mengencang, persis seperti tarikan tali sepatu yang dipakai saat berlari. Melihat kesedihan yang sengaja mereka tampilkan, membuat diri ini dengan sangat terpaksa (bukan berarti tidak ikhlas) untuk terus membersamai anak-anak.
Andaikan Ayah ingin mengundurkan diri dari tim Olimpiade, tunggulah kami naik kelas, begitulah ucapan tulus mereka dalam suatu pertemuan. Alasan itu pula yang setiap tahun saya dengarkan. Begitu kakak kelasnya naik ke kelas 12, adik kelasnya juga kembali mengungkapkan perasaannya.
Janganlah Ayah mundur, kasihanilah kami. Saya juga punya jawaban istimewa buat mereka. Saya ini apalah, hanya lilin kecil ditengah terangnya sinar Matahari. Kehadirannya tidak mengubah apapun, hanya sosok tak berguna dan tempat menimpakan semua kesalahan yang tidak ia perbuat. Persis seperti lilin. Begitu cahaya terang, ia ditiup dan dibuang seolah tak berguna.
Ungkapan itu bukan hanya menjawab kepedihan hati, tapi menyampaikan fakta yang sebenarnya anak-anak juga secara kasat mata sudah melihat dan mengetahuinya. Namun itu semua tidak cukup membuat mereka menyerah. Rumah dinas yang sejak awal pindah sudah terlanjur menjadi Base Camp anak-anak hebat, mereka tetap menjadikan setiap momen, untuk berkumpul di rumah. Sekalipun tidak ada hal besar yang mereka perbincangkan, paling tidak saat berada di rumah, semua "keruwetan" yang mereka rasakan bisa sejenak hilang.
Mereka juga tahu, selama ini tidak satu rupiahpun insentif sebagai pembina Olimpiade dibayarkan. Apakah tidak ada anggaran, ataukah memang tidak pernah terlintas dalam pikiran para pejabat di sekolah waktu itu. Jangan bayangkan ingin mendatangkan pelatih dari luar, yang memang khusus menangani tim Olimpiade. Padahal, sejak pertama kali ke tingkat nasional 2004, lanjut 2006 dan 2008. Banyak sedikitnya sudah tahu, apa saja yang harus dilakukan di sekolah. (Bersambung)
***
~~ Danau Kerinci, 291225 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
