Belajar dari Angka Nol (Bagian 2)
Tantangan Hari ke-2158
#TantanganGurusiana-6
***
Sebagai guru honorer dengan gaji yang tidak seberapa, bukan tidak bersyukur dan tidak pandai berterima kasih, malah sangat bersyukur. Bukan tentang berapa uang gaji yang diterima setiap tiga bulan sekali, niat awalnya memang karena ingin membaktikan diri mengajar dan menebar ilmu. Karena itu perintah agama. Karena ilmu yang bermanfaat, pahalanya akan terus menerus mengalir, walaupun sang gurunya telah tiada.
Kekuatan dan ketabahan hati itu juga tidak setiap waktu siap menghadapi hal yang kurang enak. Apalagi ada tudingan bahwa kita sebagai guru honorer rajin melatih dan membimbing siswa, karena ada uang honornya. Setelah mendengarkan kata-kata yang kurang pantas tersebut, akhirnya sang guru bertekat menabung uang honor yang dibayarkan oleh pihak sekolah, sampai nanti uang tersebut akan dikembalikan kepada siswa. Tentu saja tidak dalam bentuk uang. Tapi dalam bentuk lain, seolah sebuah kejutan karena sang guru tersebut akan pindah ke sekolah lain.
Kita akan dinilai oleh rekan dan siswa, sesuai dengan apa yang kita lakukan, bukan apa yang kita katakan. Siswa menilai saya dan rekan guru honorer rajin hadir sebagai pembina dan pelatih Pramuka, karena ada uang honornya. Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah, walaupun juga belum tentu benar.
Bisa jadi siswa menilai, karena sebelumnya mereka pernah bertemu dengan kasus guru yang bekerja karena ada honornya. Ternyata mereka salah. Karena tidak semua orang bisa dinilai dengan uang dan bisa dibeli dengan uang.
Begitu sudah sampai waktunya, saya ternyata memang harus pindah dari sekolah tersebut. Karena sudah mendapatkan sinyal, saya diterima sebagai PNS di Kabupaten Batanghari, walaupun belum tahu pasti dimana akan ditempatkan.
Maka, sesuai rencana sebelumnya, saya sudah menitipkan tabungan uang honor sebagai pembina dan pelatih Pramuka kepada salah seorang siswa yang juga anggota Pramuka. Uang tersebut saya minta untuk dibelanjakan sampai tidak ada yang tersisa, baik untuk membeli asmua jenis makanan maupun ongkos mobil untuk keperluan belanja makanan.
Ternyata, setelah saya mengembalikan uang honor tersebut, ada rasa lega yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Manakala kita melakukan sesuatu, bukan karena berharap akan mendapatkan balasan yang lebih banyak, sangat bisa jadi justru kebalikannya. Sangat banyak sekali kebahagiaan yang dirasakan. Itulah kenapa, melakukan sesuatu dengan tulus, akan berbeda rasanya dengan yang selalu ingin pamrih. (Bersambung)
***
~~ Mendalo Mas, 111225 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
