Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Belajar dari Angka Nol (Bagian 20)
Ilustrasi gambar: Dokumen Pribadi

Belajar dari Angka Nol (Bagian 20)

Tantangan Hari ke-2176

#TantanganGurusiana-6

***

Memasuki tahun 2009, intensitas berkumpul dengan anak-anak semakin bertambah. Semua cabang olimpiade, setiap Jumat sore dan Sabtu pagi, berkumpul dalam satu ruangan bersama. Duduk dan berdiskusi dengan masing-masing cabang. Apa yang sudah mereka siapkan dan persiapan menghadapi seleksi Olimpiade Sains tingkat Kabupaten. Jangan ditanya kendala dan keluhannya apa. Karena pasti akan panjang kali lebar (luas dan banyak) kisah perih dan pedih yang mereka utarakan.

Target setiap cabang, harus terus dikumandangkan. Terkait biaya? Semua sudah siap dengan dana masing-masing. Untuk mengundang pelatih dari luar, sudah tidak ada lagi waktu. Cukup mengoptimalkan sumber daya yang ada di sekolah. Berbagai bahan yang pernah saya dapatkan dari guru pembina Olimpiade saat hadir sebagai peserta Simposium Guru Pembina Olimpiade tingkat nasional, serta beberapa sumber secara daring yang sudah saya unduh. Sejujurnya, bahan yang saya dapatkan karena budi baik dari sesama rekan guru dari sekolah unggulan di berbagai provinsi.

Pilosofi angka nol, mengajarkan ketulusan hati dalam mengerjakan banyak hal. Jika bekerja sembari memikirkan nanti akan mendapatkan apa, maka ketulusannya akan menjadi sirna. Apalagi jika tidak sesuai harapan, maka selain rasa kecewa, juga akan melemahkan semangat untuk terus bersama anak-anak hebat tersebut.

Pernah satu waktu, ada rekan guru (pamong) menyampaikan, untuk apa berjuang habis-habisan membimbing siswa, setelah mereka tamat kita akan dilupakan. Semua jerih payah kita seolah tidak berguna. Saya hanya membalas ucapan tersebut dengan senyuman terindah yang saya punya. Karena prinsipnya sudah jelas berbeda, jadi tidak perlu saya balas dengan ucapan yang menyakitkan.

Sebagai guru, selama anak masih menjadi tanggung jawab saya, maka akan terus membersamai mereka dan memberikan yang  terbaik. Soal nanti mereka masih ingat dan atau melupakan apa yang pernah saya lakukan, itu bukan menjadi bagian dari urusan saya. Karena saya berusaha melupakan apa yang pernah saya lakukan. Mengingat kebaikan kita kepada orang lain, adalah bentuk ketidaktulusan hati memberikan bimbingan kepada mereka. Bukankah angka nol mengajarkan kita untuk tidak mengingat kebaikan kita, sebaliknya kita harus selalu mengingatkan kebaikan orang lain kepada kita. 

Lalu bagaimana bagi mereka yang membenci dan melakukan keburukan kepada saya? Jurusnya juga sangat gampang. Kalau dalam bahasa sehari-sehari, sering saya sampaikan kepada anak-anak, Forgive but not Forget. Maafkan, tapi tidak saya lupakan. Sejahat apapun perlakuan orang kepada saya, jurus sederhananya ya seperti itu. Memaafkan semua yang telah mereka lakukan, tapi sedikitpun tidak akan saya lupakan. Tujuannya sederhana, agar saya tidak melakukan hal yang sama dan akan berusaha menjaga diri dari orang yang sama, agar jangan terulang kembali perlakuan yang sama. (Bersambung)

 

 

 

 

 

 

***

~~ Danau Kerinci, 301225 ~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post