Belajar dari Angka Nol (Bagian 5)
Tantangan Hari ke-2161
#TantanganGurusiana-6
***
Sudah menjadi rahasia umum, jika mengurus pindah tempat tugas, dari satu tempat ke tempat lain, apalagi ke tempat yang lebih dekat dan sekolah yang lebih baik, konon katanya tidak ada yang gratis. Selalu ada upeti alias isi amplop sebagai sarana penyambung silaturrahim antar beberapa pihak. Entah kebetulan ataukah sebuah kebenaran (karena betul belum tentu benar, sebab kebetulan itu tidak sengaja. Iya kan para pembaca?). Saya tidak mengalami kisah yang diceritakan banyak orang tersebut.
Dari banyak kisah yang saya dengar, membuat saya tidak pernah punya keinginan untuk mengurus pindah. Mulai dari lapor diri di SMPN Ladang Panjang, tiba-tiba saya dipindahkan ke SMAN 1 MS. Belum sempat merasakan mengajar sebagai guru SMP, saya dipindahkan ke SMA. Sudah menikmati suasana sekolah, walaupun saat pertama masuk di SMAN 1 MS, sudah mendapatkan warning dari beberapa guru yang sejak awal sekolah ini berdiri, sudah ditugaskan sebagai guru tetap.
Sebagai guru yang tidak terbiasa menjaha jarak dari siswa, tentu saja arahan dan peringatan seperti itu, agak menyesakkan dada. Secara pribadi, saya tidak sepenuhnya percaya dengan warning tersebut. Sebagai guru, saya terus mencoba memahami kondisi lapangan, lalu dicocokkan dengan apa yang selama ini saya lakukan. Ternyata tidak semengeri yang diceritakan.
Sebenarnya, mereka bukan anak nakal dan kurang baik akhlaknya. Mereka adalah anak-anak yang kurang perhatian keluarga. Apalagi rata-rata dengan latar belakang keluarga yang tidak sempat mengenyam pendidikan yang lebih baik. Bahkan tidak paham apa manfaat anaknya bersekolah.
Setelah belajar dari apa yang sudah disampaikan sebelumnya, saya menemukan titik yang bisa menghubungkan semua yang terputus menjadi utuh kembali. Belajar menjadi pendengar yang baik, lalu teman dan sahabat yang baik bagi mereka. Lahirlah sebuah kepercayaan dari anak-anak. Menumbuhkan rasa percaya diri kepada mereka juga bukanlah hal mudah.
Hampir tiap tahun, selalu saja ada yang berhenti sekolah. Saya coba tanyakan kepada temannya di kelas, ternyata anak tersebut sudah dinikahkan orang tuanya. Bahkan ada yang dalam bahasa kampung mereka disebut "belarian," yang dalam bahasa umum sama dengan MBA (Married By Accident).
Sebagai guru pindahan yang tanpa persiapan, maklum pindahnya dadakan karena tanpa permintaan pindah dan tanpa "bayar" seolah menjadi tugas baru bagi saya. Tidak mudah bukan berarti tidak bisa dilakukan. Buktinya, mereka sangat dekat dengan saya dan menjadi teman cerita banyak hal.
Saya tidak sepakat mengatakan bahwa mereka anak-anak yang tidak punya masa depan. Sukses bukan tentang mereka menjadi apa dan memiliki kekayaan berapa. Lebih jauh dari itu, dari merekalah nanti akan lahir generasi baru yang sadar pentingnya pendidikan. (Bersambung)
***
~~ Mendalo Mas, 141225 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
