Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Belajar dari Angka Nol (Bagian 6)
Ilustrasi gambar: Grok

Belajar dari Angka Nol (Bagian 6)

Tantangan Hari ke-2162

#TantanganGurusiana-6

***

Mengajar dengan hati, akan sampai pula pesan tersebut ke hati. Begitu pula sebaliknya. Mengajar penuh sandiwara, maka akan merasakan suasana penuh dusta. Pahit memang jika mencoba sesuatu dengan penuh kejujuran. Harus siap berlapang dada manakala menerima penolakan. Biasanya suasana seperti ini, jika disebuah komunitas sudah terbiasa melakukan sesuatu dengan penuh kepalsuan.

Sebagai guru muda (walaupun umur aslinya sudah mulai menua, tapi tetap berjuang untuk selalu merasa muda), saya terus mencoba melakukan pendekatan kepada anak dengan penuh tanggung jawab. Mengajarkan mereka arti sebuah tanggung jawab, meninggikan kejujuran, sampai pada hal-hal kecil yang memberi dampak sangat besar dalam menjaga kekompakan di kelas. Tanpa terasa, semua hal yang awalanya dianggap buruk, perlahan mereka perbaiki dengan baik.

Saat mengajarkan materi Fisika, tentu saja secara umum anak-anak syok. Karena sebelum kehadiran saya di sekolah, mereka tetap belajar, tapi pola pendekatannya berbeda. Dianggap guru galak, kiler, dan menakutkan. Semua harus dihadapi dengan bijaksana. Sedikitpun tidak ada rasa marah dan keinginan untuk membalasa cara mereka menilai sang guru. Setelah sekian lama berjalan, barulah mereka menyadari betapa pentingnya sebuah kejujuran.

Lalu mulailah saya mengajak anak-anak menabung, mengurangi jajan, bukan berarti tidak boleh jajan, tapi belajar menata diri untuk tidak rakus, padahal di rumah juga sudah dibekali dengan makan pagi. Bahkan saat mereka meminta belajar tambahan, dilaksanakan setelah usai jam terakhir, biasanya dimulai setelah shalat zuhur.

Anak-anak masih tetap semangat. Semuanya dilaksanakan secara gratis. Sampai satu waktu, beberapa siswa ditanya oleh Kepala Sekolah. Berapa mereka diminta bayar oleh gurunya. Mereka menjawab serentak, bahwa kegiatan belajar tambahan bersama saya dilaksanakan secara gratis.

Sebagai bentuk kegiatan menanamkan kejujuran tadi, pernah satu waktu saya bawa dalam suasana guyon. Coba besok-besoknya, saat kita belajar tambahan sekalian saja bawa untuk bapak. Ternyata pada minggu berikutnya, diantara siswa memang benar-benar membawa rantang untuk makan sang guru.

Tentu saja saya tolak dengan cara yang sangat elegan. Nasi dan lauk yang dibawa, dijadikan sarana untuk mereka saling mendekatkan diri agar tidak ada lagi perbedaan dan permusuhan. Nasi dan lauk tersebut menjadi "tambuah" untuk yang merasa masih belum kenyang. Juga menambah keakraban dan kekompakan dalam kelas. (Bersambung)

***

~~ Mendalo Mas, 151225 ~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post