Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Belajar dari Angka Nol (Bagian 9)
Ilustrasi gambar: GeminiAI

Belajar dari Angka Nol (Bagian 9)

Tantangan Hari ke-2165

#TantanganGurusiana-6

***

Setelah mendapat wejangan gratis dari Kepala sekolah, kebetulan beliau juga mantan guru Kimia di sekolah yang akan saya tuju. Tentu saja semua kisah yang disampaikan menjadi referensi bagi saya dalam melangkah. Kalau terkait soal disiplin yang telah disampaikan, bagi saya pribadi bukanlah hal baru dan aneh serta menakutkan.

Karena sejak masih berstatus sebagai siswa, sampai melanjutkan studi di Perguruan Tinggai, disiplin itu sudah mendarah daging. Jadi sederhananya, terkait dengan soal kedisiplinan, jangan ditanya. Ibarat kata, saya sudah khatam dengan berbagai hal tentang disiplin.

Kembali menikmati suasana baru, ditempat yang awalnya pernah saya tolak untuk pindah, tapi takdir bercerita lain. Karena banyak kisah para guru senior yang mengurus pindah, justru harus mengeluarkan isi dompet yang tidak sedikit. Lah saya kebalikannya.

Tidak mengurus pindah dan tidak pula mengeluarkan isi dompet, eh justru dipindahkan tanpa sepengatahuan yang bersangkutan. Berarti saya mengalami dua kali pindah tanpa harus bersusah payah melewati rumitnya birokrasi dengan segala macam aroma yang tidak sedap tersebut.

Sebagai pendatang baru, saya tidak terlalu ngoyo meminta fasilitas yang sebenarnya harus diberikan kepada pamong (guru). Diantaranya adalah rumah dinas lengkap dengan fasilitasnya. Namun saya tidak meminta itu semua, sampai nanti pihak berwenang di sekolah yang secara sadar menyerahkannya. Kembali lagi dari filosofi angka nol. Ada tapi tidak terasa kehadirannya.

Hadir membawa suasana baru, pola pendekatan yang tidak biasa, seperti yang mungkin sudah menjadi pakem di sekolah. Saya tidak biasa menjaga jarak dengan siswa. Di kelas saat mengajar, saya memang berstatus sebagai guru, tapi di luar saya adalah teman bercengkrama mereka, berbagi banyak hal, sampai mereka menjadi paham kemana arah yang harus mereka lalui. Padahal, saya masih belum mendapatkan fasilitas rumah, berceritapun sambil menunggu jadwal masuk kelas siang (setelah makan siang) dan saat saya ada jadwal mengajar malam.

Sampai akhirnya, saya dipanggil oleh pihak Tata Usaha. Saya ditanya, kenapa tidak melapor dan meminta fasilitas rumah dinas. Apalagi saya bukan datang sebagai guru honorer atau guru yang diperbantukan. Saya datang ke sekolah ini, dengan surat tugas sebagai guru tetap yang berstatus PNS. Sementara guru PNS lainnya, masih berstatus guru DPK. Semua urusan kepegawaian harus kembali ke sekolah asal. Sedangkan saya, sudah resmi menjadi guru tetap. Tapi tidak mendapatkan fasilitas rumah dinas. (Bersambung).

***

~~ Mendalo Mas, 181225 ~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post