Belajar dari Angka Nol (Bagian 22)
Tantangan Hari ke-2178 #TantanganGurusiana-6 ***
Entah mengapa, petuah orang tua zaman dahulu di ranah Minang, selalu menjadi andalan dalam memotivasi diri. Sebagai pengingat saat lelah mendera. Bukan sok kuat menghadapi masalah, tapi memang menjadi sumber inspirasi diri, untuk terus bergerak tanpa perlu resah dengan apa yang hadir sebagai sandungan dalam melangkah.
Jauh berjalan banyak yang dilihat, alam takambang jadikan guru. Seperti itu pula yang dirasa selama membersamai anak-anak hebat di tim Olimpiade. Kadang (eh salah, maksudnya sering) kita berkumpul bersama, lalu dadakan patungan iuran untuk membeli makanan ringan, nanti dinikmati bersama. Saya selalu kebagian yang banyaknya, tapi soal makan? Jangan ditanya, anak-anak tidak sadar, kalau saya selalu tidak kebagian. Bukan tidak mau, karena jatah untuk saya memang disediakan bagi yang merasa belum cukup (biasanya karena saking bahagianya, bukan karena rakus).
Tidak pernah sedikitpun merasa terbebani dengan mengeluarkan sedikit uang (padahal aslinya banyak). Program pembinaan tetap berjalan sesuai jadwal, kemudian minimal dalam satu bulan, semua cabang Olimpiade berkumpul dalam ruangan, membahas apa saja yang sudah dilaksanakan, kendala dan harapan kedepan. Semuanya dibuka dengan transparan, agar terlihat kesungguhan anak-anak dalam mencapai target. Semakin terbuka semuanya diungkapkan, akan lebih mudah pula upaya penanganan masalah tersebut dilakukan.
Target yang harus diraih oleh anak-anak adalah minimal 7 orang harus berangkat ke tingkat nasional di Kota Medan. Ini saya jelaskan kepada anak-anak, karena akhir tahun 2008 (tepatnya setelah pulang dari kota Makassar) saya mengundurkan diri dari Panitia Pembinaan Olimpiade. Agar lebih fokus menangani tim Astronomi (padahal itu hanya alasan klasik saja, aslinya karena penyataan yang kurang pantas dari petinggi sekolah yang merendahkan hasil perjuangan siswa).
Saat saya diminta kembali menangani anak-anak, sekolah hanya memberi target harus ada yang berangkat ke tingkat nasional 2010 di Kota Medan. Saya jawab dengan lebih tegas, saya memberikan target 8 orang lolos ke tingkat nasional. Jika tidak tercapai, maka saya akan memilih mundur dari tim pengelola Olimpiade Sains di sekolah. Tentu saja target capaian ini membuat Kepala Sekolah terkejut. Karena beliau hanya meminta tetap ada yang lolos. Tapi saya memberikan tantangan khusus disertai ancaman pengunduran diri saya sebagai pengelola Olimpiade.
Semua hasil pembicaraan saya dengan Kepala Sekolah, saya sampaikan secara terbuka kepada anak-anak. Apa yang menjadi pertimbangan saya menjawab target minimal 8 orang lolos ke tingkat nasional, karena selama membersamai kegiatan pembinaan, terlihat semangat dan daya juang setiap cabang sangat luar biasa. Ditengah banyaknya godaan untuk bermalas-malasan, mereka lebih memilih tetap belajar dan berkumpul bersama, walaupun tanpa kehadiran guru pembinanya.
(Bersambung)
*** ~~ Danau Kerinci, 010126 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
