Belajar dari Angka Nol (Bagian 23)
Tantangan Hari ke-2179
#TantanganGurusiana-6
***
Kebetulan awal tahun 2026, saya berkesempatan menjadi Driver Ibu negara berbelanja ke Pasar Kamis di Hiang, yang dalam bahasa sehari-hari penduduk setempat biasa menyebutnya Balie. Sehingga di tiga desa ini (sebelum dimekarkan menjadi 5 atau 6 desa) hari kamis tidak ada dalam kalender, tapi berganti nama menjadi hari balie. Artinya sama dengan hari kamis. Karena hari kamis bersamaan dengan pasar mingguan di ibu kota kecamatan Sitinjau Laut tersebut.
Setiap berbelanja keperluan dapur di pasar ini, saya memilih jalan pintas atau jalan alternatif yang melewati jalan setapak di depan sebuah sekolah, tepatnya SMAN 1 Kerinci (dulu namanya SMAN Hiang). Tempat dimana saya selama tiga tahun mengenyam pendidikan di sekolah ini. Apa yang istimewa dan apa pula hubungannya dengan judul di atas? Tentu saja ada dan hubungannya sangat erat, persis seperti dua sahabat karib yang tidak bisa dipisahkan.
Selama tiga tahun di sekolah, saya sangat aktif sebagai anggota Pramuka. Saat proses seleksi calon Penegak Bantara, saya mengikuti semua prosesnya dengan sangat baik. Sehingga selama proses sidang istimewa, saya diputuskan sebagai peserta terbaik, dengan hadiahnya adalah langsung otomatis lolos mewakili sekolah sebagai peserta Kemah Raimuna Nasional di Cibubur, Jawa Barat. Tapi apa yang terjadi berikutnya? Nama saya memang terdaftar sebagai peserta, dengan peserta yang berangkat adalah orang yang berbeda, yang menggantikan kebetulan selain memiliki dana juga orang tuanya adalah salah seorang pengurus di Kwartir Ranting.
Sedikitpun saya tidak menaruh kebencian atas peristiwa tersebut. Hanya saja yang membuat sesak didada adalah saat hari pertama masuk sekolah setelah libur lebaran Idul Adha, kalau tidak salah bertepatan dengan tahun 1992. Semua teman menyalami saya sembari mengucapkan selamat, karena bisa menikmati lebaran Idul Adha di lokasi Perkemahan Raimuna Nasional. Dari sinilah semua kepedihan itu mulai terasa.
Sebagai tindakan atas kerumitan masalah tersebut, saya memilih tidak lagi terlalu aktif dalam kegiatan pendampingan adik-adik Pramuka di sekolah. Salah satu peserta terbaik Pramuka yang merupakan adik kelas adalah Rudi M.H. Pardede, sekarang dokter di kota Jambi serta satu lagi sebagai dosen Teknik Geologi di Universitas Gajah Mada, saya biasa memanggilnya Uwo Akmal. Saya sering tidak hadir, kalaupun hadir hanya sebagai pengamat dari jauh, tanpa ada keinginan untuk terlihat selalu berada di depan (bukan seperti iklan kendaraan favorit saya, yang Selali Di Depan).
Seorang Kakak Pembina, Buya Dalil (Semoga Allah senantiasa merahmati Almarhum kak Dalil. Aamiin Yaa Allah) Beliau memanggil saya, tidak hanya sebagai Pembina tapi juga ssbagai seorang guru Agama yang memberikan nasihat kepada adik sekaligus siswanya. Jangan pernah berhenti apalagi mundur. Biarlah semesta mencatat, bahwa kamu tetap yang terbaik. Walaupun berat yang kami rasakan, tapi tidak boleh ada kata menyerah dan kalah.
Dari sinilah, kepada saya diajarkan pertama kali makna dari memberi tanpa harap kembali. Walaupun jerih payah yang sudah kita lakukan dianggap tidak ada, bahkan dilupakan seolah tidak berguna, tapi harus diingat, kebaikan sekecil apapun yang kita lakukan pasti akan kembali kepada yang melakukannya. Jadi tidak perlu khawatir jika kebaikan kita tidak berbalas. Karena memang ikhlas itu dalam bahaa sederhana adalah memberi tanpa harap kembali. (Bersambung)
***
~~ Danau Kerinci, 020126 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
