Belajar dari Angka Nol (Bagian 27)
Tantangan Hari ke-2183
#TantanganGurusiana-6
***
Pembukaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) mengambil lokasi di Lapangan Merdeka kota Medan. Tapi jangan dibayangkan di ruang terbuka. Lapangan luas tersebut sudah dikelilingi dengan tenda tertutup. Sehingga peserta yang tidak menggunakan kartu tenda pengenal resmi dari panitia pelaksana, jangan harap bisa masuk ke ruangan tempat kegiatan.
Ditengah banyaknya peserta yang tidak bisa masuk, hanya melihat tayangan melalui layar lebar di luar ruangan tenda raksasa, entah darimana datangnya, tiba-tiba ada petugas yang menjaga stand pameran khusus lembaga pembinaan siswa olimpiade, Mbak Lia namanya. Beliau menawarkan kartu tanda peserta pameran kepada saya. Tujuannya hanya satu, agar saya bisa masuk ke ruang tenda raksasa, tempat dimana acara pembukaan OSN dilaksanakan.
Sejenak, saya kembali teringat pesan kedua orang tua. Bahwa berbuat baik itu jangan memikirkan balasan dari orang yang mendapatkan uluran tangan kita, biarkan semuanya mengalir. Toh tidak ada ruginya membantu orang lain. Yakinlah, setiap amal perbuatan kita, cepat atau lambat akan kembali kepada diri kita. Jika berbuat baik, maka pasti akan mendapat balasan kebaikan. Begitu juga dengan keburukan. Persis seperti fenomena angka nol tadi. Bukankah setiap bilangan, berapapun angkanya, jika dibagi dengan angka nol, maka hasilnya adalah tak terhingga.
Kembali ke suasana pembukaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) kota Medan. Tanpa sengaka, ditengah hiruk pikuk dan riuh rendahnya suara pengisi acara, ditambah lagi dengan teriakan menggema dari peserta yang provinsinya disebutkan oleh sang pembawa acara, menandai begitu banyaknya provinsi tersebut berhasil mengirimkan siswa terbaiknya ke tingkat nasional. Sayapun merasakan kemeriahannya. Karena dari ribuan peserta, ada 7 orang siswa dari sekolah saya yang lolos sebagai peserta.
Jumlah yang lumayan banyak menurut ukuran sekolah lainnya, tapi itu belum mencapai target yang saya sampaikan kepada pihak sekolah, melalui Kepala Sekolah. Bahwa saya memasang target lolos ke tingkat nasional 8 orang, sedangkan sekolah hanya memasang target 3-5 orang ke tingkat nasional.
Saya sengaja memasang target yang lebih tinggi, karena ada maksud tertentu. Dari target 5 orang siswa yang diberikan oleh sekolah, sudah saya prediksi bisa dicapai oleh tim (terbukti bisa mengirimkan 7 orang). Dengan memasang target lebih tinggi, maka ada ancaman pengunduran diri saya kepada pihak sekolah.
Saat Kepala Sekolah meminta saya kembali mengelola kegiatan Olimpiade, saya sampaikan kepada beliau, bahwa target yang harus dicapai (8 orang siswa lolos ke tingkat nasional). Apabila target tersebut tidak terpenuhi, maka saya akan mengundurkan diri dari koordinator Olimpiade di sekolah. (Bersambung)
***
~~ Mendalo Mas, 070126 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
