Belajar dari Angka Nol (Bagian 42)
Tantangan Hari ke-2201
#TantanganGurusiana-6
***
Setelah semuanya menikmati suasana mandi uap langsung di alam terbuka, dengan pemandangan yang indah, saya dan anak-anak, juga ditemani sama Kang Ata (sebut saja demikian) temannya Kang Arif, beristirahat sejenak, sembari membahas bagaimana rute kepulangan menuju Bandung. Sementara kendaraan dengan jalur Kamojang - Ibun, relatif sangat sulit ditemukan. Karena rata-rata kendaraan melalui jalur Garut. Jalur perjalanan yang sangat aman buat penumpang dan tentu saja sopir akan memilih jalur ini.
Karena berbagai pertimbangan, maka saya dan rombongan memilih menikmati berjalan kaki, persis seperti sehari sebelumnya, dari Maribaya ke Bandung. Hanya saja, untuk dari Kawah Kamojang, saya dan anak-anak berjalan kaki sampai di pintu utama Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi, masih di kawasan Kamojang. Sembari menunggu jika ada kendaraan umum yang lewat menuju Bandung. Sambil beristirahat di taman, lalu satu kendaraan PickUp lewat dan berkenan membawa tumpangan. Akhirnya rombongan bergerak menuju Bandung Selatan, tepatnya sampai batas Ciparay. Lalu kita melanjutkan kegiatan shalat dan tentu saja makan.
Entah bagaimana, selama dalam perjalanan, kita semuanya selalu diberi kemudahan. Berjalan kakipun, tidak membuat badan gerah apalagi sampai sakit. Ditambah sang sopir tidak mau menerima bayaran. Beliau dengan ikhlas memberikan tumpangan. Di rumah makanpun demikian. Tidak semua yang dihidangkan dihitung dengan uang. Minuman yang terhidang bukan hanya air putih, tapi juga ada minuman lainnya, tapi tidak dihitung alias gratis.
Bukan hanya saya saja yang kaget, tapi semuanya merasakan hal yang sama. Sangat bisa jadi, ini adalah balasan kepada kita, karena selama dalam perjalanan kita banyak membantu dan memberi kemudahan kepada orang lain. Sehingga Allah hadirkan pula orang baik yang memberikan pertolongan dan jalan kebaikan kepada kita semua. Itulah kenapa kita tidak perlu pusing dan berpikir terlalu lama ingin berbuat baik. Walaupun orang yang menerima bantuan dan kebaikan dari kita tidak mengucapkan terima kasih, apalagi membalasnya. Biarlah Yang Maha Baik memberikan balasan diluar perkiraan dan sangkaan kita. Yakinkan diri, bahwa kebaikan sekecil apapun, pasti tidak akan tertukar.
Jika selama ini, anak-anak hanya mendengar apa yang saya kisahkan, bahwa berbuat baik itu seperti bilangan dibagi dengan angka nol. Memberi itu jangan berharap kembali, apalagi menginginkannya dengan lebih banyak. Jika demikian, maka jangan harap mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Demikianlah prinsip angka nol dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan hari ini, kita sama-sama merasakannya. Kita tidak kenal dengan pak sopir dan orang rumah makan. Tapi mereka sama-sama tidak mau menerima uang yang kita bayarkan. (Bersambung)
***
~~ Mendalo Mas, 250126 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
