Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Belajar dari Angka Nol (Bagian 48)
Ilustrasi gambar: GeminiAI

Belajar dari Angka Nol (Bagian 48)

Tantangan Hari ke-2207

#TantanganGurusiana-6

***

Kita boleh berharap dan merencanakan, tapi ada banyak hal diluar perkiraan kita datang dan hadir, sehingga sesuatu yang sudah bisa diraih hilang sekejap mata. Itulah kenapa kepada kita diajarkan untuk selalu berlapang dada menerima semua yang sudah terjadi. Perhelatan Olimpiade Sains 2013 kota Bandung, mengajarkan banyak hal. Bukan tentang pengorbanan, tapi kesiapan hati menerima semuanya dengan ikhlas.

Sejak awal, semuanya sudah disampaikan dan dapat dipahami dengan baik oleh semuanya. Namun saat berada di lapangan, ada banyak hal yang bisa mengubah segalanya. Sekilas bukanlah hal yang sangat besar, tapi dampaknya sungguh luar biasa. Bukankah sebuah truk besar, bisa saja jatuh dan tergelincir bukan karena ada lubang besar dijalan yang menghalanginya, tapi karena batu kerikil kecil yang dilindas ban, menyebabkan mobil kehilangan keseimbangan.

Mendengar sekilas cerita dari salah seorang asisten juri yang saya kenal, lalu saya konfirmasi kisah tersebut ke anak, ternyata memang benar adanya. Terlihat sederhana, tapi dampaknya luar biasa. Karena panik dengan panas terik, sehingga lupa kalau kakinya sedikit menendang kaki tripod, kesalahan tersebut sangat fatal, belum lagi akibat kepanikan tersebut, si anak dengan spontan melihat matahari tanpa menggunakan teleskop. Aslinya, siswa tidak boleh mengamati matahari dengan mata telanjang, jika sudah berada di area ujian pengamatan benda langit.

Usai melihat dari dekat lokasi lomba bidang Astronomi di kampus baru ITB, Jatinangor, Sumedang. Semua guru pendamping juga diberi kesempatan menggunakan teleskop mengamati benda langit pada malam hari. Tentu saja bagi saya bukan hal baru. Karena di rumah kebetulan juga tersedia Teleskop sederhana. Mendengar kisah sebagian besar guru pendamping, yang sekolahnya belum memiliki teleskop.

Beruntung saya memiliki teleskop sendiri. Lagi-lagi tanpa bantuan pihak lain. Karena berangkat dari kehebatan angka nol yang tanpa memberi ruang bagi kedongkolan. Biarlah semuanya berjalan sendiri tanpa berharap ada yang peduli. Bukankah angka nol jika berdiri sendiri menjadi seolah tidak bermakna. Justru angka nol yang dalam kondisi berdiri sendiri sering dibaca kosong. Padahal nol itu bukan kosong. (Bersambung)

***

~~ Mendalo Mas, 310126 ~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post