Berbagi Kisah Pondok Pesantren Ash Shiddiiqi
Tantangan Hari ke-2194
#TantanganGurusiana-6
***
Sabtu,17 Januari 2026. Menjadi tamu khusus di kampus ini. Tepatnya di Pondok Pesantren Ash Shiddiiqi. Lembaga pendidikan yang berada di Kecamatan Jembatan Mas, Batanghari ini, menjadi lembaga pendidikan bagi keluarga besar cicit Syekh KH. Abdul Shamad. Loh kok bawa-bawa nama beliau? Karena memang ada hubungan langsung sosok tersebut. Kakek buyut adalah penghafal Al Quran, pendiri Pondok Pesantren Nurul Iman di Kota Seberang Jambi. Nama organisasi yang beliau ikut dirikan, kini diabadikan menjadi nama sebuah Masjid di kawasan dekat bandara.
Kembali ke judul di atas. Kehadiran saya di pondok pesantren, karena jauh sebelumnya sudah disampaikan, baik secara lisan kemudian disusul dengan undangan tertulis. Kehadiran saya ke Pondok Pesantren, untuk berbagi kisah selama menyekolahkan anak di Pondok Pesantren Ash Shiddiiqi. Apalagi keluarga besar saya memang memilih Pondok Pesantren ini sebagai tempat melanjutkan pendidikan.
Sedikit mengawali dialog saat Podcast di studio, saya menyampaikan kisah pertama kali menyekolahkan anak di pondok. Hadir dengan status angktaan ke-3 di SMP-IT, lalu menuntaskan hafalan 10 juz, melanjutkan pendidikan di tempat yang sama, angkatan ke-3 SMA-IT Ash Shiddiiqi. Tentu saja masih dengan tugas menuntaskan hafalan dengan baik. Anak-anak mampu menuntaskan hafalan 30 juz dengan baik. Sehingga oleh yayasan diberikan beasiswa khusus. Dibebaskan dari biaya pendidikan sampai tamat.
Saat si Abang menamatkan pendidikan di Pondok, kemudian melanjutkan ke Universitas Al Azhar, Cairo Mesir. Irsyad bukanlah generasi pertama. Karena sudah ada kakak kelasnya angkatan I dan II yang melanjutkan kuliah di sana. Irsyad menjadi angkatan ke-3 juga melanjutkan kuliah di Al Azhar Cairo. Bisa dibayangkan, sekolah yang dari usianya masih sangat muda, tapi alumninya sudah puluhan orang melanjutkan studi di Universitas terbaik dan tertua di dunia, ini bukanlah hal sederhana.
Jangan ditanya prestasi akademik dan non akademiknya. Saat masih SMP, Irsyad dan teman-temannya berhasil mengirimkan dua tim ke tingkat nasional bidang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) di Surabaya, serta berhasil meraih medali perunggu.
Bidang Olahraga? Mereka mampu membuat kejutan, memenangkan berbagai kompetisi di daerahnya. Mulai dari Sepakbola, Basket dan lain sebagainya. Santrinya juga mampu bersaing dengan sekolah lainnya di kabupaten, mengirimkan santri ke tingkat provinsi. Juga beberapa waktu yang lalu, menjadi finalis nasional lomba Bahasa Arab, kemudian menduduki peringkat 4 besar dalam kompetisi Basket ditingkat provinsi. (Bersambung)
***
~~ Mendalo Mas, 180126 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
