Bersinergi dengan Pondok Pesantren Ash Shiddiiqi
Tantangan Hari ke-2196
#TantanganGurusiana-6
***
Bercerita tentang Pondok Pesantren ini, bagi saya sebenarnya bukanlah yang pertama. Sejak anak sulung bergabung, lalu diikuti oleh adik-adiknya, berbagai hal tentang sekolah sering saya ungkapkan di sosial media. Bahkan sering saya ulas dengan spesial di blok guru menulis terbesar di negeri tercinta, yang namanya identik dengan guru, yaitu Gurusiana.
Sebagai orang tua yang menyekolahkan anaknya di Pondok Pesantren ini, bukan sekadar menitipkan, lalu berharap anak berubah menjadi lebih baik, sementara ditengah keluarga sendiri, sang anak tidak diajarkan hal-hal baik sesuai tuntunan agama.
Saya sering menyampaikan, bahwa Pondok Pesantren maupun sekolah berasrama lainnya, bukanlah tempat menitipkan anak, tempat semua perilaku buruknya akan diperbaiki menjadi lebih baik. Jika demikian, maka orang tua siswa sedang memosisikan sekolah sebagai panti rehabilitasi. Karena berharap sekolah bisa mengubah perilaku buruk anaknya agar menjadi lebih baik.
Sejatinya, pendidikan akhlak pertama kali diajarkan di rumah. Melalui kedua orang tua dan keluarganyalah, semua hal baik dalam ajaran agama, diajarkan kepada anak sejak dini. Penanaman nilai ini akan bertumbuh menjadi lebih baik, manakala bersambut dengan lembaga pendidikan. Artinya, saat pendidikan karakter di rumah sudah baik, lalu dilanjutkan oleh sekolah, Insya Allah hasilnya menjadi lebih optimal. Tentu saja kedua belah pihak bersepakat untuk saling mendukung.
Berbagi kisah inipun, tidak dalam rangka "mengajari" pihak lain. Apalagi merasa menjadi yang paling baik. Tapi sebagai bagian dari upaya saling menguatkan. Apa saja yang sudah dilakukan di rumah, lalu diperkuat oleh sekolah/pondok. Maka hasilnya juga akan lebih baik. Pentingnya sinergi antara orang tua melalui forum ataupun paguyuban orang tua, biasa disebut Komite Sekolah, menjadi jembatan kebaikan bagi semua pihak. Soal hasil? Kita serahkan kepada Allah Swt, atas semua ikhtiar yang telah dilakukan oleh sekolah/pondok dan mendapat dukungan penuh orang tua santri.
Semoga dari sedikit kisah yang diuraikan, menjadi penyemangat bagi orang tua santri dan calon orang tua santri, untuk menitipkan (dalam arti positif) anaknya mengejar cita-citanya. Kemampuan akademik berkembang pesat, hafalan AlQurannya luar biasa, kemampun teknologi informasinya juga tidak ketinggalan. Jadi sangat tepat moto Ash Shiddiiqi, Sekolah Masa Kini, Generasi Qur'ani, Generasi Berprestasi.
***
~~ Mendalo Mas, 200126 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
